Shadaqah yang Sungguh

Can’t stress enough how wonderful and touching this scene, and how far I am from them..

Abu Mas’ud, Uqbah bin Amru Al Anshari ra. berkata:

Ketika turun ayat yang menganjurkan untuk bershadaqah, kami membawa shadaqah di atas punggung kami. Seorang laki-laki datang dengan shadaqah yang banyak. Melihat lelaki tersebut, orang-orang munafik berkata,

“Orang ini bershadaqah agar dipuji orang lain”

Sementara itu, seorang laki-laki lain datang dengan membawa shadaqah satu sha’ (1/3 liter). Orang-orang munafik kembali berkata,

“Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan satu sha’ ini.”

Lalu Allah menurunkan ayat, “(Orang-orang munafik itu), yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi shadaqah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.“ (At Taubah 79)

~* Muttafaq’alaih *~

Para sahabat itu, begitu bersegera pada kebaikan. Berbondong-bondong bersedekah hanya “sekedar“ karena turun ayat yang menganjurkan bersedekah. Sementara kita, betapa sering sedekah kita begitu transaksional: karena kita mengharapkan, membutuhkan sesuatu dari Allah yang seringkali duniawi. Padahal..

Abu Hurairah berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Nabi saw. dan bertanya, ‘Ya Rasulullah, shadaqah apakah yang paling besar pahalanya?’

Rasul menjawab, ‘Hendaklah kamu bershadaqah ketika kamu berada dalam keadaan sehat, hatimu enggan bershadaqah, dan dirimu takut menjadi fakir serta ingin kaya. Janganlah kamu menunda-nunda berbuat baik sampai nyawa berada di tenggorokan, lalu berkata ‘Ini untuk si fulan dan ini untuk si fulan’. Padahal itu sudah menjadi haknya’.“ (Muttafaq’alaih, Riyadhus Shalihin bab Bersegera Melakukan Kebaikan hadits ke-4)

Sudah Lama

Allah.,

Betapa jauh perjalananku merentang jarak antara kita. Padahal, aku mengawalinya untuk memendekkan jarak antara kita. Betapa lama aku tak bicara, bercerita, meminta, atau sekedar bermanja.

Jadi….

Kemana aku harus mengubah arah?

Darimana aku harus memulai?

 

Matahari, Kau, dan Aku

Kau tahu benar betapa aku menyukai rembang matahari terbenam. Saat hati dan hari sendu, ia menutupnya dengan jingga yang indah dan menyusupkan sedikit penerimaan dalam keyakinan bahwa apa yang terjadi adalah terbaik. Penerimaan yang perlahan menjelmakan sendu menjadi bahagia.

Tapi setiap kali aku menginginkannya, kau justru mengajakku melihat matahari terbit. Menikmati hangat sinarnya sambil menyesap secangkir kopi hitam. “Matahari pagi juga membawakanmu jingga bukan? Tapi jingganya mengantar semangat. Terlalu dini untukmu menyerah. Kau masih harus memperjuangkannya. Nanti, saatnya kau harus menerima takdir, akan kubawa kau pada rembang matahari terbenam,” bisikmu saat merengkuhku di atap pagi itu.

Secangkir kopi dan matahari terbit menjadi rutinitasku tiap pagi. Tentu saja selalu ada kau yang menemaniku di atap. Dan aku pun terbiasa mengawali hari dengan selaksa semangat. Aku menjadi terlalu akrab dengan senyum. Aku senang berteman dengan tantangan. Lalu saat hari dan hati letih, kau akan mengajakku melihat bintang. Mengingatkanku pada mimpi dan janji yang dititip masa lalu. 

Saat akhirnya hari dan hatiku terlalu letih. Kau lah, satu-satunya yang kuijinkan melihat air mata paling rahasia di bawah hujan. Alih-alih memberikan bahumu, kau malah mengajakku menari. Dasar kau memang tidak peka! Tapi entah bagaimana, aku jadi tertawa dan lupa pada air mata. Kita bermain hujan bersama. Aku tidur dengan hati riang malam itu. 

Esoknya, kau penuhi janjimu mengantarku melihat rembang matahari terbenam. “Kau sudah siap menerima,” bisikmu. Kau tahu, rembang diantara gedung-gedung senja itu terasa sangat indah? Penerimaan yang indah. “Aku akan menemanimu membuat peta baru,” katamu pada lega senyumku. Aku terpaku menatapmu. Takjub pada ketulusan dalam matamu yang menatap matahari. “Meski arahnya akan menuntunku menjauh darimu?” tanyaku. “Meskipun begitu,” jawabmu lembut membelai kepalaku.

Ah, aku tak menyangka kita akan sampai di titik ini. Pertemuan pertama kita penuh antisipasi. Kau tentu tahu banyak yang mengantar kabar buruk tentangmu padaku. Tapi aku yang datang dengan hati remuk, jatuh cinta padamu. Pandangan pertama. Dan kau, dengan caramu sendiri, telah memberiku hati baru. Dua tahun ini, aku menemukan kembali hidupku bersama kebaikan, keramahan, tantangan, kejutan, dan pelajaran yang kau berikan. Hubungan kita memang tidak selalu baik-baik saja. Aku yang emosional ini seringkali tak mengerti maksud baikmu. Tapi setiap pelarianku selalu berujung kembali padamu. Dan kau selalu menerimaku kembali.

Tiba-tiba aku takut, banyak “bagaimana jika” berseliweran di kepalaku. Aku takut dengan kemungkinan. “Kau tahu dimana harus mencariku,” katamu membaca pikiranku. “Tak ada yang perlu kau risaukan. Mulailah perjalanan barumu. Aku akan selalu ada disini saat kau membutuhkanku.”

Oh, kau, betapa aku mencintaimu; Jakarta! Kotaku!

Happy 487th birthday!

Berita dan Sikap Kita

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (An Nur 15)

Di musim pemilu ini, kita seringkali mendapati kabar yang mengusik rasa keadilan atau kemanusiaan kita, pun nilai-nilai benar-salah atau baik-buruk yang kita yakini. Lalu dengan semangat membara -yang sebenarnya lebih banyak didorong emosi, kita menyebarluaskan kabar tersebut. Tak lupa berapi-api mengomentari seolah-olah paham dan benar. Sampai kita lupa langkah terpenting sebelum itu semua: tabayyun. Kita lupa mengecek kebenaran berita tersebut, memahami duduk permasalahan seutuhnya, dan melihat dari sudut pandang para pihak yang terlibat. Dan akhirnya, alih-alih memberikan hukuman sosial atau mencerdaskan yang lain, kita justru memperkeruh suasana.

Kalaupun akhirnya proses tabayyun kita membenarkan kabar tersebut,tidak lantas kita harus ikut menyebarluaskan, ramai membahas dengan bahasa yang jauh dari standar santun kebanyakan orang. Ada maslahat dan madharat yang harus kita pertimbangkan. Ada kehatian memilih kata agar pesan kita diterima. Memang semua proses itu tidak menyenangkan, sebagian menyakitkan bahkan. Tapi justru disitulah diuji kematangan dan kualitas diri kita.

Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat. (Al Furqon 20)

Tentang Kegagalan

Dear Heart.,

You have learned that your greatest failure normally will be followed by the greatest triumph. Jadikan aku hamba yang membanggakan Allah, yang  bila memperoleh kebaikan kamu memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah kemu memuji Allah dan bersabar. Ingatkan aku selalu akan janji Allah saat aku berada di titik nadir..

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah  datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. -Q.S. Al Baqarah : 214

Dan mintalah pertolongan ( kepada ) Allah dengan sabar dan sholat.
Dan sesungguhya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang  khusu’ , ( yaitu ) orang-orang yang menyakini , bahwa mereka akan menemui Robb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. -QS Al Baqarah : 45 -46

Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang indah -Al Ma’arij : 5
Dalam menafsirkan ayat ini, Sayyid Quthb mengatakan, “Sabar yang indah adalah kesabaran yang tenang tenteram, kesabaran yang tidak disertai perasaan-perasaan marah dan gelisah dan tidak pula disertai rasa ragu-ragu terhadap kebenaran janji Allah. Kesabaran orang yang yakin terhadap akibat-akibat, kesabaran orang yang rido dengan takdir Allah, kesabaran orang yang menyadari hikmah dibalik ujian Allah dan kesabaran orang yang senantiasa berhubung dengan Allah dan mencari pahala di sisiNya dan dari apa saja kesusahan yang menimpa dirinya.”

Barang siapa yang bersungguh-sungguh di jalan (agama)Kami, sungguh benar-benar akan kami tunjukkan jalan-jalan Kami, dan Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. -QS. Al Ankabut : 69

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,… -Al Isra : 7

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” -Al Baqarah : 286

Jadi jangan khawatir jika saat ini kamu mengalami kesusahan, karena pastinya setelah itu akan datang kemudahan dan juga kesuksesan yang jauh lebih besar..

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu? Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. -QS. Alam Nasyrah/94:1-8)

Please, let it go.. Jangan biarkan aku membusuk karena kamu terus memelihara lukamu..

Dream another dream..

My Hero Taxi Driver

I am so grateful to meet Pak Yaya, my taxi driver this morning. He told his life story along the way to my office and the wisdom of the story is completely applicable to my situation; If you fell down yesterday, stand up today. He got fired at his late forty as Marketing Manager. He should struggle from zero because no companies would hire him because of his age. He opened a small shop at his house to feed his family and being a taxi driver later. But, successfully ushered his children to graduate school.

“Terus berjuang, Neng. Prinsipnya DUIT, Doa Usaha Ishbir Tawakal.”

There’s no way it’s a coincidence. It must be your doing, My Rabb. I am sorry I almost forgot, that..

You love me the most.

You are every step I made.

You are every minute of my everyday.

You are my daily sunshine.

You are my everything.

Welcome, 2013!

Image

My Rabb, I hope, somewhere in this year, You surprise me.
I don’t know where I am going from here,  but I promise it won’t be boring. Whatever fortune brings, I won’t be afraid of doing things. Let  me be brave – step into the unknown without fear and with smiles on my face, even if I am faking it. And whatever happens to me, whatever I make, whatever I learn, let me take joy in it, let me be grateful with it.
Cheers to a new year and another chance to get it right!
May my coming 2013 be filled with magic experiences and dreams come true and good madness.