Hardest Days

walk

“Lalu segera terasa daun-daun menguning, anakku.
Dan apa yang tersisa dari usiaku selain
ingatan yang perlahan rapuh dan hati yang tak
lagi gagah menyusun rencana…”

– Badru Tamam Mifka

_________________________

26 September 2009

siang hari

Alhamdulillah, Bapak sadarkan diri setelah infus dipasang. Semangkuk bubur berhasil masuk. Tapi, Bapak tersedak dan muntah lagi. Semuanya keluar. Akhirnya Bapak minum air saja. Hampir sebotol tandas. Tapi, Bapak memuntahkannya lagi. “Istirahat saja dulu, Pak”, kata Ibu. My Rabb, semoga bangun tidur nanti ada sesuatu yang bisa masuk ke lambungnya.

sore hari

Bapak menggigil, atau kejang? Entahlah. Aku panik memencet bel memanggil perawat. Lalu Bapak disuntik. My Rabb, belum ada apapun yang dimakannya. Padahal karena alasan itulah, kami membawanya ke rumah sakit ini.

malam hari

Bapak sama sekali tak bisa dibangunkan. Tak merespon apapun. Ada darah di kantong kateternya. Terus menerus keluar darah saat buang air kecil. “Gapapa kok, Mbak”, kata perawat yang datang setelah kupencet bel. Gapapa gimana? Orang itu keluar darah terus sampai merah warnanya. Kupencet bel lagi. Akhirnya, perawat menyerah dan memanggilkan dokter jaga. “Gapapa kok, tidak ada yang membahayakan jiwa”, kata dokter. “Gapapa gimana, itu ga sakit emang rasanya. Dari tadi Bapak selalu mengaduh.” Menggerutu dalam hati sambil berusaha agar kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar lebih sopan. Akhirnya dokter memberikan obat untuk menghentikan pendarahan dalam. Meski begitu, dapat dikatakan aku mengakhiri hari dengan adu mulut. Yeah..!

27 September 2009

dini hari

Aku berusaha tetap tenang. Berusaha memejamkan mata. Memutar murotal Abu Rabbani.

pagi hari

Alhamdulillah, Bapak sadar pagi tadi. “Lapar”, begitu katanya. Sepiring bubur tandas. Hari ini baik sekali kondisinya. Aku lega dan mulai gempor terima orang-orang yang ingin menjenguk Bapak : tetangga satu RT, Mbah Wito langsung dari Panggul, Mbah Misdi langsung dari Pasuruan, Mbah Rudi dan keluarga, Pak Jumadi, Pak Sir sekeluarga, Pakde Gento.

Betapa diam-diam harapan kita saling berbagi, Bapak
Kemudian aroma hujan pada tanah kenanganmu,
Pohon-pohon doa dan permohonanmu, telah
Mengajari bahwa usia bukanlah
Satu-satunya geriap yang mampu menghitung
Seberapa tabah kebahagiaan kita dan
Seberapa pasrah kemuliaan kita…

(Badru Tamam Mifka)

Eh, aku belum pamit pada “panglima” di bandung dan pembimbing TA. Seharusnya, aku sudah beraktifitas kembali di Bandung selepas libur Lebaran ini. Kukirimkan beberapa kata dalam sebuah pesan pendek.

28 September 2009

Bapak menurun lagi kondisinya. Sedikit sekali makanan yang bisa masuk. Bapak hanya bisa menghabiskan separuh bungkus proten. Kata dokter, Bapak harus CT scan yang ternyata tak bisa langsung hari ini. Arrrgh..!

29 September 2009

Aku mengawali pagi dengan hati kesal, Bapak belum bisa CT scan hari ini. Dokter juga minta foto torak sekalian hari ini. Tapi tetap saja tak bisa.

……….

Aku marah pada diri sendiri. Aku tersinggung dengan kemiskinan yang kusandang. Ketiadaan dana membuat kami sekeluarga hanya bisa merawat Bapak disini. Kecuali nanti harus dirujuk karena fasilitas rumah sakit ini tak bisa membantu Bapak lagi. Ah, seandainya dari awal kami bisa memberikan yang terbaik. Bapak selalu memberikan yang terbaik untuk kami. Bapak tak peduli kebutuhan sendiri. Bapak tak peduli omongan orang. Yang penting adalah yang terbaik untuk kami. Lalu balasan kami? Disini, Ruang VIP nomor 4 RSUD Dr.Soedomo. Hanya itu.

My Rabb, setelah ini, hidupku harus  lebih baik. Agar aku bisa memberikan yang terbaik untuk Bapak dan Ibu. Aku tak bisa lagi menanggungkan perasaan bersalah karena menanti di rumah sakit yang lebih murah seperti saat ini. Meski aku tidak bisa lulus tepat waktu, semoga Allah memberikan waktu yang tepat. Meski mungkin akhirnya enam SKS TA berakhir dengan nilai E, semoga …

Seberapapun indahnya rencana kita, jauh lebih indah rencana Allah untuk kita. (Danang A. Prabowo)

……….comfort-daddy

30 September 2009

Bapak belum bisa foto rontgen juga hari ini. “Besok saja, biar sekalian ngangkatnya”, kata perawat. Aku tak percaya apa yang kudengar. “.. biar sekalian ngangkatnya”. Apa yang mereka pikirkan?! Bapak sudah dua hari tidak bisa makan dan minum. Dan bagi mereka, tidak bisanya Bapak makan minum sebanding dengan “biar sekalian ngangkatnya” -kerepotan mereka-. Oh, My Rabb, Bapak sudah semakin menyusut saja berat badannya.

I feel like killing these nurses and doctors..

……….

Bapak alergi plester ternyata. Kulitnya melepuh. Kulit Bapak mengelupas saat plester dilepas. “Gapapa kok, mbak.. selama ga bengkak masih bisa”, begitu kata perawat saat kuminta memindahkan infus ke tangan kanan.  “Pindah saja, Pak”, kuminta. Akhirnya mereka menyerah dan memindahkan infus. “Ini diobatinya pakai apa ya? Betadine salep bisa?”, tanyaku. Perawat mengiyakan. Kutunggu beberapa lama. Mana ini yang mau mengobati luka tangan Bapak? Eh, ternyata kami harus beli betadine sendiri. Harus mengobatinya sendiri.

……….

Bapak seolah berulangkali menggenggam tanganku saat kuoles betadine ke tangannya. Ah, Bapak….. Aku disini..

Tetapi berbahagialah, Bapak, hidup memang
Tak memberi kita tafsir yang ketat untuk bahagia
Telah kulanjutkan sisa musim

Juga sisa lading yang segar
Dan bakti yang tak pernah berhenti dan mati

(Badru Tamam Mifka)

……….

Ternyata ujian kesabaran berlanjut. Malam hari saat plester anti alergi lepas dan kakak bertanya bisakah pakai selotip, berharap mereka menambah plester anti alerginya. Ternyata kami lagi yang harus beli sendiri. Kami merekatkan plester yang lepas dengan selotip.

Aaaaargh…! This hospital’s services is killing me!

……….

1 Oktober 2009

06.00

Apakah itu air mata? Ada air mengalir di kedua ujung matanya saat kukatakan aku menyesal tak bisa memberikan perawatan kesehatan terbaik untuknya. Maafkan aku, Pak.. Jangan bersedih, lihatlah diluar, musim mengirim hadiah terbaiknya pagi ini : hujan.. Denting rintiknya sungguh menyejukkan dan mengharu biru hati. Rumpun padi di sawah kita pasti sedang tersenyum tengadah menyambutnya. Segeralah sembuh, mereka merindukanmu..

……….

10.00

Saat rekan seperjuangan berangkat ke Jakarta untuk memperjuangkan RUU Tipikor, akhirnya Bapak bisa menjalani CT Scan dan foto rontgen.

2 Oktober 2009

sekitar pukul satu

Bapak terbangun tiba-tiba. Membuka mata. Nafasnya terengah-engah. Mas panik memencet bel. Tekanan darah tak begitu tinggi sebenarnya. Lalu? Apakah Bapak memimpikan sesuatu?

……….

04.30

Aku bangun dengan perasaan dan fisik yang lebih baik setelah semalam menghabiskan bertusuk-tusuk sate kambing. Makan kadang bisa membuat perasaan lebih baik. Semoga hari ini sudah ada diagnosa dokter tentang sakit bapak.

antara pukul delapan dan sembilan pagi

Ini ada sedikit hidrocefalus karena produksi cairan yang berlebihan. Bukan karena penyumbatan saluran. Salurannya masih bagus. Jadi Bapak tidur terus karena tekanannya. Fungsi saraf dan metabolisme masih cukup bagus. Lalu ini ada metastase dari kanker nasofaringnya. Bla..Bla..“, dokter menjelaskan sambil mengacungkan hasil CT scan. “Nanti dipasang selang makanan saja”, begitu ia mengakhiri setelah kami jelaskan Bapak sudah tidak bisa menelan.

Aku berunding dengan kakak sepeninggal dokter. Kami memutuskan untuk mencari informasi dulu sebelum minta Bapak dirujuk ke rumah sakit lain.

menjelang sholat jumat saat ransum diantar

Ini mana selang makanannya kok belum dipasang? Jatah makan siang Bapak yang diantar tentu saja tak bisa dimasukkan. Aaargh..!

……….

menjelang tengah malam

Kami menembus hujan dan gelap dalam ambulan menuju surabaya. Badanku remuk.

3 Oktober 2009

pukul dua dini hari

Malaikat Izrail baru saja menunaikan tugasnya di ruang resusitasi IRD RSU Dr.Soetomo Surabaya saat kami tiba. Dik Agung sudah menunggu untuk membantu. My Rabb, terimakasih untuk semua pertolongan dan kemudahan ini.

maghrib

Setelah malalui serangkaian observasi dari dokter saraf, jantung, mata, THT dan bedah saraf (foto leher, CT Scan, tes darah, tes urin, tes jantung, periksa mata dan THT) akhirnya diputuskan Bapak operasi malam ini. Dokter akan memasang permanen alat untuk mengeluarkan cairan yang berlebihan di tengkorak Bapak. Empat setengah juta harga alatnya. Kakak menjebol tabungan yang sedianya akan digunakannya untuk mengontrak rumah.

tengah malam

Detik ini, genap empat kali Izrail singgah di ruang Resusitasi sejak kedatangan kami. Izrail menjemput dua laki-laki, satu bocah dan satu bayi. Dokter sedang berunding tentang tingkat kesadaran Bapak untuk menetukan dosis bius. Tiba-tiba Bapak membuka mata, menanyakan waktu, menanyakan cucunya, menggenggam tanganku dan kami berbicara tentang sabar. Bahwa ujian ini adalah tanda cinta dari Allah untuk kami.

Seperti tak ada yang mengenal kematian sedekat engkau

Seperti tak ada yang memahami jarak dan aroma maut sedekat engkau

(Muhammad Faiz)

Kukirim sepotong pesan pendek ke beberapa nomor saudara. Kami sangat membutuhkan bantuan doa. Karena, kami tak pernah tahu doa siapa yang sesungguhnya diijabah oleh-Nya.

with-dad4 Oktober 2009

pukul dua dini hari

Bapak didorong memasuki ruang operasi. Tergesa aku membangunkan kakak yang meringkuk di dekat pintu dan mbak yang tidur disamping kamar mayat. My Rabb, selamatkan Bapak atau ijinkan Bapak memiliki akhir yang baik.

subuh

Operasi yang dijadwalkan selesai jam 4 ternyata belum selesai juga. Khawatir mendera.

ashar

Bapak sudah berada di ROI. Dan sudah tiga kali Izrail singgah menjemput tiga nyawa sejak Bapak masuk.

maghrib

Sudah adzan dari tadi ternyata. Aku telat sholat, parah! Lalu kabar itu tiba seperti sambaran petir. Aku berusaha memijak bumi saat menangkap penjelasan mbak lewat telepon. “Jantung Bapak tidak stabil. Bapak akan mendapatkan kejutan jantung. Ibu menandatangi surat pernyataan, karena ada dua kemungkinan dari kejutan jantung yang diberikan. Kemungkinan pertama, jantung Bapak kembali bekerja stabil. Kemungkinan kedua, berhenti sama sekali.” Allahu Akbar! My Rabb, selamatkan Bapak atau berikan akhir yang baik untuknya.

Setiap saat kau bertanya-tanya
tentang jarak dan aroma maut
yang hinggap di hidung kita
dan apakah ajal
selain keakraban yang tertunda
nyala kerinduan untuk menghadap

(Muhammad Faiz)

pukul 9 malam

Jantung Bapak stabil. Alhamdulillah. Aku berusaha memejamkan mata. Letih sekali tiga hari terakhir ini.

……….

9 Oktober 2009

Hari-hari setelah Bapak operasi diisi dengan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan administrasi. Ternyata, mengurus administrasi di rumah sakit dengan pengetahuan nihil tentang denahnya saat sedang berpuasa dimana malam harinya lupa sahur itu.. sesuatu.

Mulai dari mengurus ruangan. Aku harus bolak balik Gedung Saraf A – Saraf B – Bedah I – Graha Amerta selama dua hari. Saat Dokter Yudhi mengatakan kami bisa pindah karena ada kamar kosong yang berhasil diurusnya, aku hampir jingkrak-jingkrak di koridor rumah sakit saking senangnya.

Lalu urusan resep. Aku sampai empat kali bolak-balik kantor perawat – apotek untuk mengganti resep yang ditulis di form yang salah oleh dokter muda. Belum cukup sampai disitu, mereka menaruh mayat laki-laki yang meninggal saat aku menukar resep ketigakalinya di pintu keluar. Oh, My Rabb, aku masih harus bolak-balik lewat pintu itu!

Lalu administrasi untuk MRI. Entah berapa kali aku harus berputar-putar dan berpindah gedung untuk menyelesaikannya. My Rabb, tidak bisakah kita merekayasa ulang proses bisnis di rumah sakit ini dan membuat sebuah sistem informasi yang terintegrasi?!

……….

Aku menjadi akrab dengan Izrail di rumah sakit ini. Tadi, kami bertemu lagi menjelang sholat jumat. Sesaat setelah aku dan bapak baru saja berbicara tentang syukur, sabar dan berprasangka baik pada Allah serta betapa dekatnya pertolongan Allah pada kami, Izrail datang menjemput nyawa di ruang sebelah dan mampir mengucap salam.

……….

12 Oktober 2009

Aku seperti tidak mengenal Bapak. Bapakku adalah seorang yang rapi dan sistematis jalan pikirannya. Rasional. Dan berwawasan luas. Kami sangat biasa berdebat dan berdiskusi tentang berbagai hal. Tapi sosok yang terbaring di hadapanku kini bahkan terlalu sulit baginya mencerna keberadaannya. Untuk pertama kalinya sejak Bapak sakit dua tahun lalu, aku berharap terbangun dan mendapati bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Tepat setelah lintasan pikiran itu muncul, ada suara isak tangis yang semakin keras dari ruang depan. Izrail baru saja pergi dengan sebuah jiwa. Astaghfirullah..

Barang siapa yang tidak bersabar atas cobaan-Ku, tidak mensyukuri nikmat-Ku, dan tidak rela atas ketentuan-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku

— Hadits Qudsi

……….

17 Oktober 2009

Aku berangkat ke Bandung sore ini. Aku selalu merindukan Bandung. Dinginnya. Keruwetannya. Kulinernya. Duniaku disana. Adik-adik binaan. Aku jatuh cinta pada Bandung sejak pertama kali kami bertemu. Tapi aku tak pernah membayangkan akan berangkat dengan kondisi seperti ini. Ada materi yang diduga tomur/kanker di kepala kiri Bapak. Cukup besar untuk membuat mata dan telinganya tak berfungsi. Cukup berbahaya untuk menekan batang otak sehingga jantung Bapak selalu tak stabil. Cukup sakit untuk membuat Bapak pusing sampai muntah sepanjang waktu.

Di kereta ini, hatiku remuk..

Menikah di Jalan Dakwah

apple2Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri walimah seorang teman. Awalnya kami berangkat dengan suka cita, pun bertemu dengan teman lain di walimah dengan suka cita. Sampai mata ini menangkap sebuah ironi. Di sana, teteh-teteh kami yang usianya lebih tua dari keempat mempelai (mempelai wanita kembar dan melangsungkan walimah bersamaan), turut berbahagia dan berdoa untuk mempelai. Tapi tiba-tiba hati saya miris, saya teringat pesan Pak Cah tentang menikah di jalan dakwah. Apa yang saya pahami tentang frase itu berubah seketika. Berikut sadurannya.

……….

Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya pada sisi yang lain. Dalam memilih pasangan hidup, dipikirkan  kriteria yang akan bernilai optimal untuk dakwah, bukan untuk diri sendiri. Pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur adalah : “apakah pemilihan pasangan hidup ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, atau sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi diri sendiri?”

Aktivis dakwah muslimah yang telah memasuki usia siap menikah memiliki rentang usia yang sangat beragam. Karenanya, berbeda pula tingkat kemendesakkan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai 35 tahun, sebagiannya 30 sampai 35, juga antara 25 sampai 30. Mereka semua siap menikah, siap menjalankan fungsi dan peran sebagai istri dan ibu di rumah tangga.

Jika Antum seorang muslim yang berikrar menginfakkan hidup di jalan dakwah, berniat melaksanakan pernikahan dan dihadapkan pada realitas ini, manakah yang lebih Antum pilih? Dengan pertimbangan apa Antum memilihnya? Jika Antum memilih fulanah yang berusia lima tahun lebih muda dari Antum, sungguh Antum tidak salah. Antum telah memilih calon istri dengan benar sesuai sunnah Rasulullah. Namun, apabila semua laki-laki muslim berpikir bahwa calon istrinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, lebih muda darinya, maka siapakah yang akan melamar para muslimah tadi? Siapakah yang akan melamar para muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk mengatakn bahwa dia cantik menurut ukuran umum? Mereka adalah muslimah yang taat, shalihah, menjaga kehormatan diri, dan aktif dalam dakwah. Menurut Antum, siapakah yang harus menikahi mereka?

Mengapa pertanyaannya “harus”? Karena kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas itu! Jodoh di tangan Allah, kita tidak memiliki hak, biarlah Allah memberikan keputusan-Nya yang agung. Kita memang bisa melupakan mereka, tidak peduli dengan mereka, tapi apakah Islam menghendaki kita berperilaku demikian? Kendatipun Rasulullah menganjurkan Jabir menikahi gadis, hampir semua istri Rasulullah adalah janda. Kendatipun Rasulullah menyarankan Jabir beristri gadis, tapi Rasulullah menyetujui pilihan Jabir untuk menikahi janda setelah mengetahui alasan maslahat yang menjadi pertimbangan Jabir.

Bersediakah Antum menurunkan poin kecantikan dari kriteria calon istri Antum barang 20 atau 30 poin untuk mendapatkan kemaslahatan dari segi yang lain? Jika gadis harapan Antum berusia lebih muda, tidakkah Antum bersedia memberikan toleransi dengan melihat pada muslimah yang lebih mendesak untuk menikah dikarenakan usia? Atau setidaknya, muslimah seangkatan Antum? Jika Antum adalah muslimah muda usia, ditanya oleh seorang muslim yang sesuai harapan Antum, mampukah Antum mengatakan padanya,  “Saya memang sudah siap untuk menikah, namun sahabat saya fulanah lebih mendesak untuk segera menikah.” Ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh?

Atau kita telah bersepakat untuk tidak mau melihat realitas ini dengan dalih bukan tanggung jawab kita? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan ketidakberuntungan adalah takdir yang tidak berada di tangan kita. Ingatlah , Rasulullah berpesan, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh menderita sakit, terasa sakitlah seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan demam” (HR Bukhari dan Muslim). Bisa jadi kebahagiaan pernikahan Antum telah menyakiti hati saudara yang lain. Setiap saat mereka membaca dan menghadiri undangan pernikahan, hati mereka bersedih karena jodoh tak kunjung datang sementara usia terus bertambah dan kepercayaan diri semakin berkurang. Disinilah perlunya kita berpikir tentang kemaslahatan dakwah.

……….

Apakah Antum bersedia menikah di jalan dakwah?

______________________________________________________________________

My Rabb, tulisan ini kubuat lebih dari setahun yang lalu. Meski begitu, aku sendiri ragu..

My Rabb, bantu aku agar bisa menikah di jalan dakwah. Pernikahan yang membawa maslahat tidak hanya untuk diri sendiri..

My Rabb, jadikan diri ini ridho dengan apapun ketentuan-Mu dan apapun pilihan-Mu..

Mengguncang Singgasana Allah

lightSa’ad bin Mu’adz bergegas pergi. Tujuannya satu : mencegah agar Mus’ab bin Umair tidak menyebarkan Islam di Madinah. Sebagai salah satu tokoh di kaumnya, Yahudi Bani Quraidhah, Sa’ad ingin agar Mus’ab membiarkan Yastrib di atas agama lamanya. Ia hendak mengusir Mus’ab untuk segera pulang kembali ke Mekkah. Namun, yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Ia tercenung, kagum, dan sangat meresapi apa yang disampaikan Mus’ab. Di tangan Mus’ab lah, lelaki tampan, gagah, dan tinggi besar itu masuk Islam. Sesudah itu, jalan hidupnya berubah. Mengabdi dan berjuang untuk Islam adalah pilihannya. Ia mengukir banyak sekali momen kepahlawanan yang luar biasa.

Saat Rasulullah harus berperang di Badar, peperangan yang tidak direncanakan, ia mewakili orang-orang Anshar memberikan sikap dan dukungan yang tegas. “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu. Telah membenarkan engkau adalah Rasulullah. Maka berangkatlah engkau. Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, sekiranya di hadapan kita ada laut yang menghadang, dan engkau menyeberangi laut itu, niscaya kami akan turut menyertai. Kami akan sabar dan tegar … ”

Di Uhud yang bergolak, Sa’ad menjadi tameng Rasulullah. Tegak berdiri di sisinya. Di Khandaq, ia turut mempertahankan Madinah mati-matian. Ia terkena panah. Hari-hari berjalan dengan sangat sulit. Madinah dikepung. Tiba-tiba, orang-orang Yahudi dari Bani Quraidhah berkhianat. Mereka turut bersekutu dengan Quraisy, padahal sebelumnya mereka telah melakukan perjanjian dengan Rasulullah. Setelah dikepung selama dua puluh lima hari, akhirnya Bani Quraidhah menyerah. Mereka meminta dihakimi oleh orang dari kaumnya sendiri. Maka Sa’ad bin Mu’adz yang disepakati. Di tengah rasa sakit karena luka-luka yang terus memburuk, Sa’ad berdoa : “Ya Allah, janganlah engkau matikan aku sampai aku menyelesaikan urusanku dengan kaumku, Bani Quraidhad.” Momen penting itu datang lagi. Ia bersikap, tegas, dan itu adalah tabungan bagi kebesarannya di sisi Allah.

Sesudah itu, hari-hari Sa’ad adalah penantian menuju keabadian. Ia memohon agar luka-luka itu mengantarkannya menuju kesyahidan. Ia dijenguk Rasulullah yang berdoa “Ya Allah, sesungguhnya Sa’ad ini telah berjuang di jalan-Mu, terimalah ruhnya dengan penerimaan yang sebaik-baiknya.” Orang-orang berkabung. Sedih. Rasulullah mengatakan, “Sungguh, kematian Sa’ad telah mengguncang singgasana Allah.” Orang-orang yang mengangkat jenazahnya merasakan betapa ringan, padahal badannya besar. “Sebab para malaikat turut mengangkat jenazahnya”, kata Rasulullah. Sementara, yang turut menggali tanah mengatakan, “…Setiap kali tanah digali, tercium aroma yang sangat wangi, bahkan hingga ke lahatnya.”

Alangkah cepat waktu berlalu. Sa’ad masuk Islam pada umur 31 tahun dan meninggal dalam usia 37 tahun. Waktu enam tahun begitu singkat. Tapi itu adalah segala masa keemasannya. Ia bersikap. Ia tegas. Ia berani. Ia memilih. Ia berkorban. Ia memberi. Dan ia yakin. Maka kematiannya disambut bumi dengan wewangian. Kabar kematiannya melesat menembus langit yang tujuh, menggetarkan singgasana Allah.

Kematian hanya datang sekali. Bumi dan langit akan bersikap sebagaimana mestinya. Setiap potongan waktu dalam hidup kita adalah kesempatan untuk berbuat. Di atas bumi dan di bawah langit, kita punya pilihan dan kesempatan untuk menjadi sesuatu. Panjang pendeknya waktu kadang bukan masalah utama. Enam tahun bagi Sa’ad, adalah hari-hari yang penuh pilihan berharga, sikap yang mahal, dan kontribusi yang sangat-sangat berarti. Tapi bagaimana dengan kita? Enam tahun? Sepuluh tahun? Lima belas tahun? Empat puluh tahun?

Titipkan Semuanya kepada Allah

Waiting

from tarbawi

Menitipkan kepada Allah berarti menitip-kan kepada Dzat yang Maha Menjaga. Tidak rusak dan tidak hilang apa yang dititip-kan kepada-Nya. Titipkan diri ini agar tidak banyak kehilangan kebaikan. Titipkan generasi ini agar tidak hilang tersesat di belantara dunia. Titipkan negara ini agar dijaga dan tetap dilimpahkan keberkahan. Titipkan hati ini agar tetap menjadi pencetus ide-ide kebaikan.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak melepas seorang teman-nya. “Kesinilah aku lepas engkau dengan cara Nabi melepas orang yang hendak pergi, ‘Aku titipkan engkau kepada Allah yang tidak akan pernah hilang apa yang dititipkan kepada-Nya.’”

Ketika kita mulai khawatir akan kehilangan sesuatu, maka segeralah berdialog dengan Allah, agar Dia menjaga kita dan menjaga apa-apa yang kita takutkan akan hilang. Bahkan ketika kita sudah kehilangan, mintalah agar Allah mengembalikan kepada kita apa yang telah pergi.

Ketika Said kehilangan barang berharga, Hasan Al-Bisri berkata, “Pergi dan ambillah wudhu kemudian sholatlah dua rakaat dan berdoalah, Wahai Dzat yang Maha Lembut, Maha Pemberi, Maha Pengasih, Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, Pencipta langit dan bumi, Yang Mempunyai keagungan dan keutamaan, ampunilah aku dan kembalikan yang hilang dariku,” Tak lama berselang, Said kembali kepada Hasan dengan barang berharga yang hilang sudah di tangannya kembali.

Meminta tolong dan menggantungkan harapan kepada sesama manusia, seringkali tidak mendatangkan solusi. Bahkan bisa menyesatkan. Berpindahlah pada Allah yang Maha Mengetahui ke mana perginya yang hilang dan “tempat menitip” yang paling aman, karena apa yang kita miliki tidak mungkin rusak dan hilang.

Yang telah hilang dari kita mungkin amatlah banyak. Sebelum berbuntut penyesalan berkepanjangan dan hanya menambah penderitaan, maka cepatlah bertindak yang benar ketika kita kehilangan.

_______________________________________________________________________

My Rabb, titip hati ini agar senantiasa ikhlas..

Titip semua yang bisa mendekatkan diri ini pada-Mu..

Teman, Sahabat, dan Musuh

train2Teman menikammu dari depan..

Sahabat berkomitmen memperbaiki kekuranganmu..

Dan, musuh menikammu dari belakang..

___________________

Saat ini memang banyak orang yang kukenal, jauh lebih banyak daripada saat SMA dulu. Tapi, hanya sedikit sekali diantara mereka yang menjadi teman apalagi sahabat. Teman adalah seseorang yang mau mengingatkanmu, seperti cermin, ia memantulkan bayanganmu. Karenanya, teman menikammu dari depan. Dan seorang sahabat adalah ia yang tak hanya mengingatkanmu, tapi menjadikan kekuranganmu sebagai tanggung jawabnya. Ia membantumu memperbaiki kekuranganmu. Tapi musuh lebih memilih untuk membicarakan kekuranganmu di belakang, sekedar melampiaskan kekesalan. Entah mengapa, aku merasa mempunyai lebih banyak musuh daripada teman saat ini. Mungkin memang ada yang salah dengan citra diriku di mata mereka sehingga mereka tidak mau menyampaikannya, atau mungkin sistem nilai di lingkungan ini berbeda dengan masa laluku, enam tahun yang lalu.

Kesedihan dua hari ini, melemparkan ingatanku pada masa enam tahun lalu. Sebuah SMA di kota kecil. Sebuah masjid merah jambu. Dan persahabatan enam akhawat : Cholinaning, Florensi, Anita, Yanti, Yuli dan aku. Dimulakan dengan keputusan masing-masing untuk mencintai Allah dengan sungguh, kami dipertemukan dalam sebuah mentoring. AlBanna, begitu kami menamakan kelompok mentoring kami. Hari-hari yang kami lalui hanya berkisar antara Ma’had, ruang kelas, masjid merah jambu, dan pohon mangga. Tapi setiap detiknya adalah kenangan indah tentang perjuangan di jalan Allah dan persahabatan karena Allah. Saling menanggung beban dalam menjalankan rohis. Tak jarang kami berlima “rapat” saat merasa ada yang salah pada seorang sahabat kami. Sekedar untuk mencari solusi, kebenaran dan cara menyampaikan yang baik pada sahabat kami tersebut. Begitulah persahabatan kami.

Dan siapa lagi kalau bukan Mira, nama yang sering disebut dalam “rapat-rapat” itu. Betapa kelima orang itu telah banyak membantu perbaikan diri ini. Saat mereka menemukan kesalahan atau kekurangan diri, mereka selalu mengutarakannya padaku. Entah lewat surat, atau langsung, baik secara personal atau disidang rame-rame. Tak hanya sampai disitu, mereka bahkan membantuku memperbaikinya. Selalu. Mungkin lelah. Tapi tak pernah bosan. Semoga Allah membalas kesabaran mereka menghadapiku kala itu. Juga ketelatenan Mbak Adira membina kami.

Kini, jarak telah memisahkan raga tapi tidak dengan hati. Tausyiah dan sapa masih berseliweran lewat sms atau email. Meski begitu, tak ada lagi teguran untuk perbaikan diri. Sesuatu yang terasa sangat biasa kala itu, tapi begitu mewah kini.

Siapapun kalian yang membaca tulisan ini, jika kalian merasa dikaruniai Allah sahabat yang baik maka peliharalah.

_____________________________________________________________________

My Rabb, tulisan ini kubuat hampir setahun yang lalu, saat hati ini merasakan rasa yang sama dengan yang kurasakan saat ini, rindu..

My Rabb, pertemukan kami di menara cahaya..

“Di sekitar Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada. Hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka. Ketika para sahabat bertanya, Rasul menjawab ‘Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah’ ” (HR. Tirmidzi)


Kaifa Haaluk ya Nafsiy?

change“Balil insaanu ‘ala nafsihi bashiroh”. Dan dengang pengetahuan yang cukup akan diri ini, maka jawablah wahai diriku…

Kaifa haaluk?

Masihkah kekuatan iman menghujam dalam jiwamu? Apa yang menghalangimu menambah iman? Apa yang memberatkan langkahmu datang ke majelis iman? Apakah kamu sudah merasa yakin wahai diriku bahwa kamu akan selamat di hadapan Allah kelak hanya dengan prestasi ala kadarnya? Masihkah komitmen dengan janji yang kamu ikrarkan setiap hari di hadapan Rabbmu bahwa, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah”? Ataukah seluruh potensi dan waktumu hanya kamu habiskan untuk membangun kebesaran dunia? Jujurlah wahai diriku…

Andaikata seluruh rangkaian hidupmu kamu catat sendiri dan di penghujung tahun ini kamu audit, pasti akan kamu temui wahai diriku, betapa banyak amanah yang tidak dapat kamu tunaikan, betapa banyak nikmat yang kamu kufuri, betapa banyak kewajiban yang kamu telantarkan, betapa banyak hak-hak yang kamu abaikan, betapa banyak ibadah yang kamu sia-siakan, betapa banyak..betapa banyak..iqra kitaabak kafaa binafsikalyauma ‘alaika hasiba.

Kaifa haaluk?

Lihatlah umat di sekelilingmu telah menunggu! Adakah uluran tangan kebaikanmu telah menyentuh saudaramu? Adakah sepatah nasihat telah terucap? Adakah perbuatan dan titahmu telah menjadi qudwah dan pendorong kebaikan? Adakah ilmumu telah menerangi saudaramu dari kegelapan? Adakah tampilan akhlak baikmu telah menjadi cermin bagi saudaramu?

Ataukah kamu..wahai diriku, sampai saat ini masih sibuk dengan diri sendiri? Apakah kesibukan dunia sedemikian menghimpitmu sehingga kamu tak sempat berbuat apa-apa?

Kaifa haaluk?

Sudah saatnya kamu menatap luasnya cakrawala kehidupan yang sesungguhnya, sudah saatnya wahai diriku, kamu berbicara dan berbuat agar ada perubahan..innalloha laa yughoyyiru maa biqoumin hatta yughoyyiru maa bi anfusihim.

Selalu Ada Dosa

alone“Janganlah memandang kecilnya dosa, tapi pandanglah kepada siapa kamu mendurhakai” (HR Aththusi)

_______________________________________________

Dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah berdebu. Wajah terasa sejuk sesaat, tapi butiran nodanya mulai melekat. Tak terasa, tapi begitu membekas. Kalau saja tak ada cermin, aku takkan pernah mengira kalau aku sudah berubah.

Perjalanan hidup memang bukan jalan tanpa terpaan debu.Kian cepat kita berjalan, semakin keras butiran debu menerpa. Sedikit, tapi terus dan pasti. Berhati-hatilah, karena sekecil apa pun debu, ia bisa mengurangi kemampuan melihat. Sehingga tidak lagi jelas, mana nikmat mana maksiat.

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw. mewanti para sahabat agar berhati-hati dengan sebuah kebiasaan. Karena boleh jadi, sesuatu yang dianggap ringan berdampak besar membentuk hati. Karenanya,

  1. Resapilah, bahwa terlalu banyak dosa yang kau tanggung, bukan sebaliknya. ” ‘…Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini , sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya (QS Al-Kahfi 103-104) “
  2. Berlatih untuk menerima nasihat dari siapa pun datangnya. Masalahnya, seberapa cerdas diri ini menyikapi masukan. Kadang, emosi yang kerdil membuat banyak pertimbangan (dalih), tidak melihat apa isi nasihat tapi siapa yang memberi nasihat. Astaghfirullah, inilah indikasi sombong, yaitu selalu menolak kebenaran dan mengecilkan keberadaan orang lain.
  3. Paksakan diri untuk bermuhasabah secara rutin. Lihat amalan tidak hanya dari sisi jumlah tapi juga mutu. Boleh jadi, aku justru jatuh dalam kesalahan ketika proses amal menzhalimi orang lain, mencederai hak orang lain, Bapak Ibu..