Ibu

carry-your-heart ketika kau entah di mana dalam urat nadiku
kusaksikan kertap suara itu
seperti asing rasanya matahari senja
cuaca tersirap begitu tiba-tiba

ketika kau entah di mana dalam urat darahku
kudengar lengking suara itu
seperti asing rasanya matahari senja
tak ingin tenggelam di ufuk sana

(Ketika Kau Entah Di Mana: Sapardi Djoko Damono, 1989)

_____________________________________________________

Akhirnya aku tahu kenapa beberapa hari terakhir ini hati sungguh tak tenang rasanya.. ingin berlari pulang. Aku juga akhirnya tahu kenapa aku tak bisa memjamkan mata dan kehilangan nafsu makan. Ibu..

Ibu terkena demam berdarah. Trombositnya turun. Seharusnya beliau dirawat. Tapi demi melihat Bapak yang sedang sakit, Ibu memaksakan dirinya rawat jalan, agar tetap bisa menjaga Bapak. Bolak-balik setiap hari ke rumah sakit untuk mengecek trombositnya. Masih mengayuh sepedanya ke sekolah di kaki gunung itu. Masih mengerjakan semua urusan rumah tangga sendirian. Dan masih saja mengatakan baik-baik saja, sehat-sehat saja, setiap kali kutanyakan kabarnya di telepon. Ibu baru bilang padaku kalau Ibu baru saja sakit setelah Ibu sembuh. Ah, Ibu..

“Agar lebih mudah bagimu, adek. Agar adek tidak khawatir. Bisa tenang belajar disana”, selalu itu jawaban Ibu setiap kali aku protes.

Tidak, Ibu, tidak! Sungguh tidak lebih mudah. Tahukah Ibu, perasaanku selalu tak tenang bila terjadi sesuatu di rumah? Betapa pun Ibu bilang semuanya baik-baik saja. Tahukah Ibu, betapa aku tak bisa memejamkan mata setiap malam tanpa alasan yang kuketahui jelas jika Ibu mulai menahan hati sendirian? Tahukah Ibu, lapar pergi jauh-jauh dariku jika terjadi sesuatu pada Bapak dan Ibu? Dan tahukah Ibu, aku mendadak demam tanpa alasan yang jelas? Meski Ibu tak memberitahuku sedikit pun.

Ah, Ibu memang selalu begitu. Ini bukan pertama kalinya kan? Kali-kali lain sebelum ini pun, Ibu juga tak pernah memberitahuku. Saat Ibu kecelakaan. Saat Bapak sakit. Saat bibi meninggal. Ibu hanya akan bercerita saat semuanya telah kembali baik-baik saja. Bahkan seringkali Ibu baru cerita jika aku pulang. Ah, seharusnya aku tahu, seharusnya aku langsung pulang saja seperti yang kulakukan sebelum-sebelumnya.

……….

My Rabb.. sampaikan pada mereka betapa aku mencintainya.

Sampaikan dengan cara terindah betapa menderu rindu hati ini, tak habis-habis.

My Rabb.. titip rindu ini pada siapapun yang bertemu mereka hari ini.

Lukislah senyum cerah di wajah orang-orang itu untuk mereka dariku.

Sampaikan lewat lisan orang-orang itu salam terindah, “…Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh….” untuk mereka dariku.