Mengguncang Singgasana Allah

lightSa’ad bin Mu’adz bergegas pergi. Tujuannya satu : mencegah agar Mus’ab bin Umair tidak menyebarkan Islam di Madinah. Sebagai salah satu tokoh di kaumnya, Yahudi Bani Quraidhah, Sa’ad ingin agar Mus’ab membiarkan Yastrib di atas agama lamanya. Ia hendak mengusir Mus’ab untuk segera pulang kembali ke Mekkah. Namun, yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Ia tercenung, kagum, dan sangat meresapi apa yang disampaikan Mus’ab. Di tangan Mus’ab lah, lelaki tampan, gagah, dan tinggi besar itu masuk Islam. Sesudah itu, jalan hidupnya berubah. Mengabdi dan berjuang untuk Islam adalah pilihannya. Ia mengukir banyak sekali momen kepahlawanan yang luar biasa.

Saat Rasulullah harus berperang di Badar, peperangan yang tidak direncanakan, ia mewakili orang-orang Anshar memberikan sikap dan dukungan yang tegas. “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu. Telah membenarkan engkau adalah Rasulullah. Maka berangkatlah engkau. Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, sekiranya di hadapan kita ada laut yang menghadang, dan engkau menyeberangi laut itu, niscaya kami akan turut menyertai. Kami akan sabar dan tegar … ”

Di Uhud yang bergolak, Sa’ad menjadi tameng Rasulullah. Tegak berdiri di sisinya. Di Khandaq, ia turut mempertahankan Madinah mati-matian. Ia terkena panah. Hari-hari berjalan dengan sangat sulit. Madinah dikepung. Tiba-tiba, orang-orang Yahudi dari Bani Quraidhah berkhianat. Mereka turut bersekutu dengan Quraisy, padahal sebelumnya mereka telah melakukan perjanjian dengan Rasulullah. Setelah dikepung selama dua puluh lima hari, akhirnya Bani Quraidhah menyerah. Mereka meminta dihakimi oleh orang dari kaumnya sendiri. Maka Sa’ad bin Mu’adz yang disepakati. Di tengah rasa sakit karena luka-luka yang terus memburuk, Sa’ad berdoa : “Ya Allah, janganlah engkau matikan aku sampai aku menyelesaikan urusanku dengan kaumku, Bani Quraidhad.” Momen penting itu datang lagi. Ia bersikap, tegas, dan itu adalah tabungan bagi kebesarannya di sisi Allah.

Sesudah itu, hari-hari Sa’ad adalah penantian menuju keabadian. Ia memohon agar luka-luka itu mengantarkannya menuju kesyahidan. Ia dijenguk Rasulullah yang berdoa “Ya Allah, sesungguhnya Sa’ad ini telah berjuang di jalan-Mu, terimalah ruhnya dengan penerimaan yang sebaik-baiknya.” Orang-orang berkabung. Sedih. Rasulullah mengatakan, “Sungguh, kematian Sa’ad telah mengguncang singgasana Allah.” Orang-orang yang mengangkat jenazahnya merasakan betapa ringan, padahal badannya besar. “Sebab para malaikat turut mengangkat jenazahnya”, kata Rasulullah. Sementara, yang turut menggali tanah mengatakan, “…Setiap kali tanah digali, tercium aroma yang sangat wangi, bahkan hingga ke lahatnya.”

Alangkah cepat waktu berlalu. Sa’ad masuk Islam pada umur 31 tahun dan meninggal dalam usia 37 tahun. Waktu enam tahun begitu singkat. Tapi itu adalah segala masa keemasannya. Ia bersikap. Ia tegas. Ia berani. Ia memilih. Ia berkorban. Ia memberi. Dan ia yakin. Maka kematiannya disambut bumi dengan wewangian. Kabar kematiannya melesat menembus langit yang tujuh, menggetarkan singgasana Allah.

Kematian hanya datang sekali. Bumi dan langit akan bersikap sebagaimana mestinya. Setiap potongan waktu dalam hidup kita adalah kesempatan untuk berbuat. Di atas bumi dan di bawah langit, kita punya pilihan dan kesempatan untuk menjadi sesuatu. Panjang pendeknya waktu kadang bukan masalah utama. Enam tahun bagi Sa’ad, adalah hari-hari yang penuh pilihan berharga, sikap yang mahal, dan kontribusi yang sangat-sangat berarti. Tapi bagaimana dengan kita? Enam tahun? Sepuluh tahun? Lima belas tahun? Empat puluh tahun?