Mengingatkan vs Menyalahkan

mancing

“Sahabat terbaik bukanlah orang yang selalu membenarkanmu. Tetapi sahabat terbaik adalah yang membuat kamu benar.”

______________________________

Menyatakan sesuatu yang benar-benar salah dapat digolongkan sebagai tindakan keliru. Mengapa menyalahkan perkara yang salah merupakan kekeliruan? Soalnya bukan terletak pada dia salah atau tidak. Dari quote tentang sahabat di atas, kita tahu bahwa salah satu bentuk perilaku yang baik adalah mengingatkan kita terhadap kesalahan kita. Letak perbedaannya, antara mengingatkan dengan menyalahkan ada pada iktikad dan cara.

Menyalahkan lebih dekat pengertiannya kepada laknat, meski tidak tepat betul. Nanti silakan lihat Al-Adzkaar karangan Imam Nawawi. Menyalahkan lebih dekat kepada tindakan menilai negatif pada pribadinya, bukan menunjukkan pada tindakan yang keliru secara spesifik. Sedangkan tindakan “membuat kamu benar” menjadikan kita dapat menyadari kesalahan kita, menerima dengan lapang dada, dan insya-Allah akan lebih siap memperbaiki sesuai dengan tingkat kesanggupan melakukan proses perubahan.

Ada kalanya kita tidak bermaksud menyalahkan, tetapi ditafsirkan sebagai sikap menyalahkan. Hal itu bisa dikarenakan orang yang kita ajak bicara sedang sensitif secara emosi. Persepsi “menyalahkan” juga bisa muncul karena sudah ada zhan (dugaan) dari orang tersebut kepada kita. Zhan membuat kita menyeleksi informasi yang kita terima sehingga sesuai dengan zhan kita. Ibaratnya, kalau memakai kacamata hijau, kertas putih pun tampak hijau, setidaknya banyak berisi bercak hijau; memakai kacamata merah semua tampak merah; dan memakai kacamata bening membuat kita melihat segala sesuatu apa adanya, merah tampak merah dan hijau tampak hijau. Karenanya, Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.  Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurât (49):12)

______________________________________________________________________

My Rabb, jadikanlah aku sahabat terbaik bagi saudara-saudaraku dan berikanlah aku sahabat terbaik..