Menikah di Jalan Dakwah

apple2Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri walimah seorang teman. Awalnya kami berangkat dengan suka cita, pun bertemu dengan teman lain di walimah dengan suka cita. Sampai mata ini menangkap sebuah ironi. Di sana, teteh-teteh kami yang usianya lebih tua dari keempat mempelai (mempelai wanita kembar dan melangsungkan walimah bersamaan), turut berbahagia dan berdoa untuk mempelai. Tapi tiba-tiba hati saya miris, saya teringat pesan Pak Cah tentang menikah di jalan dakwah. Apa yang saya pahami tentang frase itu berubah seketika. Berikut sadurannya.

……….

Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya pada sisi yang lain. Dalam memilih pasangan hidup, dipikirkan  kriteria yang akan bernilai optimal untuk dakwah, bukan untuk diri sendiri. Pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur adalah : “apakah pemilihan pasangan hidup ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, atau sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi diri sendiri?”

Aktivis dakwah muslimah yang telah memasuki usia siap menikah memiliki rentang usia yang sangat beragam. Karenanya, berbeda pula tingkat kemendesakkan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai 35 tahun, sebagiannya 30 sampai 35, juga antara 25 sampai 30. Mereka semua siap menikah, siap menjalankan fungsi dan peran sebagai istri dan ibu di rumah tangga.

Jika Antum seorang muslim yang berikrar menginfakkan hidup di jalan dakwah, berniat melaksanakan pernikahan dan dihadapkan pada realitas ini, manakah yang lebih Antum pilih? Dengan pertimbangan apa Antum memilihnya? Jika Antum memilih fulanah yang berusia lima tahun lebih muda dari Antum, sungguh Antum tidak salah. Antum telah memilih calon istri dengan benar sesuai sunnah Rasulullah. Namun, apabila semua laki-laki muslim berpikir bahwa calon istrinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, lebih muda darinya, maka siapakah yang akan melamar para muslimah tadi? Siapakah yang akan melamar para muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk mengatakn bahwa dia cantik menurut ukuran umum? Mereka adalah muslimah yang taat, shalihah, menjaga kehormatan diri, dan aktif dalam dakwah. Menurut Antum, siapakah yang harus menikahi mereka?

Mengapa pertanyaannya “harus”? Karena kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas itu! Jodoh di tangan Allah, kita tidak memiliki hak, biarlah Allah memberikan keputusan-Nya yang agung. Kita memang bisa melupakan mereka, tidak peduli dengan mereka, tapi apakah Islam menghendaki kita berperilaku demikian? Kendatipun Rasulullah menganjurkan Jabir menikahi gadis, hampir semua istri Rasulullah adalah janda. Kendatipun Rasulullah menyarankan Jabir beristri gadis, tapi Rasulullah menyetujui pilihan Jabir untuk menikahi janda setelah mengetahui alasan maslahat yang menjadi pertimbangan Jabir.

Bersediakah Antum menurunkan poin kecantikan dari kriteria calon istri Antum barang 20 atau 30 poin untuk mendapatkan kemaslahatan dari segi yang lain? Jika gadis harapan Antum berusia lebih muda, tidakkah Antum bersedia memberikan toleransi dengan melihat pada muslimah yang lebih mendesak untuk menikah dikarenakan usia? Atau setidaknya, muslimah seangkatan Antum? Jika Antum adalah muslimah muda usia, ditanya oleh seorang muslim yang sesuai harapan Antum, mampukah Antum mengatakan padanya,  “Saya memang sudah siap untuk menikah, namun sahabat saya fulanah lebih mendesak untuk segera menikah.” Ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh?

Atau kita telah bersepakat untuk tidak mau melihat realitas ini dengan dalih bukan tanggung jawab kita? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan ketidakberuntungan adalah takdir yang tidak berada di tangan kita. Ingatlah , Rasulullah berpesan, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh menderita sakit, terasa sakitlah seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan demam” (HR Bukhari dan Muslim). Bisa jadi kebahagiaan pernikahan Antum telah menyakiti hati saudara yang lain. Setiap saat mereka membaca dan menghadiri undangan pernikahan, hati mereka bersedih karena jodoh tak kunjung datang sementara usia terus bertambah dan kepercayaan diri semakin berkurang. Disinilah perlunya kita berpikir tentang kemaslahatan dakwah.

……….

Apakah Antum bersedia menikah di jalan dakwah?

______________________________________________________________________

My Rabb, tulisan ini kubuat lebih dari setahun yang lalu. Meski begitu, aku sendiri ragu..

My Rabb, bantu aku agar bisa menikah di jalan dakwah. Pernikahan yang membawa maslahat tidak hanya untuk diri sendiri..

My Rabb, jadikan diri ini ridho dengan apapun ketentuan-Mu dan apapun pilihan-Mu..