Selalu Ada Dosa

alone“Janganlah memandang kecilnya dosa, tapi pandanglah kepada siapa kamu mendurhakai” (HR Aththusi)

_______________________________________________

Dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah berdebu. Wajah terasa sejuk sesaat, tapi butiran nodanya mulai melekat. Tak terasa, tapi begitu membekas. Kalau saja tak ada cermin, aku takkan pernah mengira kalau aku sudah berubah.

Perjalanan hidup memang bukan jalan tanpa terpaan debu.Kian cepat kita berjalan, semakin keras butiran debu menerpa. Sedikit, tapi terus dan pasti. Berhati-hatilah, karena sekecil apa pun debu, ia bisa mengurangi kemampuan melihat. Sehingga tidak lagi jelas, mana nikmat mana maksiat.

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw. mewanti para sahabat agar berhati-hati dengan sebuah kebiasaan. Karena boleh jadi, sesuatu yang dianggap ringan berdampak besar membentuk hati. Karenanya,

  1. Resapilah, bahwa terlalu banyak dosa yang kau tanggung, bukan sebaliknya. ” ‘…Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini , sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya (QS Al-Kahfi 103-104) “
  2. Berlatih untuk menerima nasihat dari siapa pun datangnya. Masalahnya, seberapa cerdas diri ini menyikapi masukan. Kadang, emosi yang kerdil membuat banyak pertimbangan (dalih), tidak melihat apa isi nasihat tapi siapa yang memberi nasihat. Astaghfirullah, inilah indikasi sombong, yaitu selalu menolak kebenaran dan mengecilkan keberadaan orang lain.
  3. Paksakan diri untuk bermuhasabah secara rutin. Lihat amalan tidak hanya dari sisi jumlah tapi juga mutu. Boleh jadi, aku justru jatuh dalam kesalahan ketika proses amal menzhalimi orang lain, mencederai hak orang lain, Bapak Ibu..