Teman, Sahabat, dan Musuh

train2Teman menikammu dari depan..

Sahabat berkomitmen memperbaiki kekuranganmu..

Dan, musuh menikammu dari belakang..

___________________

Saat ini memang banyak orang yang kukenal, jauh lebih banyak daripada saat SMA dulu. Tapi, hanya sedikit sekali diantara mereka yang menjadi teman apalagi sahabat. Teman adalah seseorang yang mau mengingatkanmu, seperti cermin, ia memantulkan bayanganmu. Karenanya, teman menikammu dari depan. Dan seorang sahabat adalah ia yang tak hanya mengingatkanmu, tapi menjadikan kekuranganmu sebagai tanggung jawabnya. Ia membantumu memperbaiki kekuranganmu. Tapi musuh lebih memilih untuk membicarakan kekuranganmu di belakang, sekedar melampiaskan kekesalan. Entah mengapa, aku merasa mempunyai lebih banyak musuh daripada teman saat ini. Mungkin memang ada yang salah dengan citra diriku di mata mereka sehingga mereka tidak mau menyampaikannya, atau mungkin sistem nilai di lingkungan ini berbeda dengan masa laluku, enam tahun yang lalu.

Kesedihan dua hari ini, melemparkan ingatanku pada masa enam tahun lalu. Sebuah SMA di kota kecil. Sebuah masjid merah jambu. Dan persahabatan enam akhawat : Cholinaning, Florensi, Anita, Yanti, Yuli dan aku. Dimulakan dengan keputusan masing-masing untuk mencintai Allah dengan sungguh, kami dipertemukan dalam sebuah mentoring. AlBanna, begitu kami menamakan kelompok mentoring kami. Hari-hari yang kami lalui hanya berkisar antara Ma’had, ruang kelas, masjid merah jambu, dan pohon mangga. Tapi setiap detiknya adalah kenangan indah tentang perjuangan di jalan Allah dan persahabatan karena Allah. Saling menanggung beban dalam menjalankan rohis. Tak jarang kami berlima “rapat” saat merasa ada yang salah pada seorang sahabat kami. Sekedar untuk mencari solusi, kebenaran dan cara menyampaikan yang baik pada sahabat kami tersebut. Begitulah persahabatan kami.

Dan siapa lagi kalau bukan Mira, nama yang sering disebut dalam “rapat-rapat” itu. Betapa kelima orang itu telah banyak membantu perbaikan diri ini. Saat mereka menemukan kesalahan atau kekurangan diri, mereka selalu mengutarakannya padaku. Entah lewat surat, atau langsung, baik secara personal atau disidang rame-rame. Tak hanya sampai disitu, mereka bahkan membantuku memperbaikinya. Selalu. Mungkin lelah. Tapi tak pernah bosan. Semoga Allah membalas kesabaran mereka menghadapiku kala itu. Juga ketelatenan Mbak Adira membina kami.

Kini, jarak telah memisahkan raga tapi tidak dengan hati. Tausyiah dan sapa masih berseliweran lewat sms atau email. Meski begitu, tak ada lagi teguran untuk perbaikan diri. Sesuatu yang terasa sangat biasa kala itu, tapi begitu mewah kini.

Siapapun kalian yang membaca tulisan ini, jika kalian merasa dikaruniai Allah sahabat yang baik maka peliharalah.

_____________________________________________________________________

My Rabb, tulisan ini kubuat hampir setahun yang lalu, saat hati ini merasakan rasa yang sama dengan yang kurasakan saat ini, rindu..

My Rabb, pertemukan kami di menara cahaya..

“Di sekitar Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada. Hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka. Ketika para sahabat bertanya, Rasul menjawab ‘Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah’ ” (HR. Tirmidzi)