Hardest Days

walk

“Lalu segera terasa daun-daun menguning, anakku.
Dan apa yang tersisa dari usiaku selain
ingatan yang perlahan rapuh dan hati yang tak
lagi gagah menyusun rencana…”

– Badru Tamam Mifka

_________________________

26 September 2009

siang hari

Alhamdulillah, Bapak sadarkan diri setelah infus dipasang. Semangkuk bubur berhasil masuk. Tapi, Bapak tersedak dan muntah lagi. Semuanya keluar. Akhirnya Bapak minum air saja. Hampir sebotol tandas. Tapi, Bapak memuntahkannya lagi. “Istirahat saja dulu, Pak”, kata Ibu. My Rabb, semoga bangun tidur nanti ada sesuatu yang bisa masuk ke lambungnya.

sore hari

Bapak menggigil, atau kejang? Entahlah. Aku panik memencet bel memanggil perawat. Lalu Bapak disuntik. My Rabb, belum ada apapun yang dimakannya. Padahal karena alasan itulah, kami membawanya ke rumah sakit ini.

malam hari

Bapak sama sekali tak bisa dibangunkan. Tak merespon apapun. Ada darah di kantong kateternya. Terus menerus keluar darah saat buang air kecil. “Gapapa kok, Mbak”, kata perawat yang datang setelah kupencet bel. Gapapa gimana? Orang itu keluar darah terus sampai merah warnanya. Kupencet bel lagi. Akhirnya, perawat menyerah dan memanggilkan dokter jaga. “Gapapa kok, tidak ada yang membahayakan jiwa”, kata dokter. “Gapapa gimana, itu ga sakit emang rasanya. Dari tadi Bapak selalu mengaduh.” Menggerutu dalam hati sambil berusaha agar kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar lebih sopan. Akhirnya dokter memberikan obat untuk menghentikan pendarahan dalam. Meski begitu, dapat dikatakan aku mengakhiri hari dengan adu mulut. Yeah..!

27 September 2009

dini hari

Aku berusaha tetap tenang. Berusaha memejamkan mata. Memutar murotal Abu Rabbani.

pagi hari

Alhamdulillah, Bapak sadar pagi tadi. “Lapar”, begitu katanya. Sepiring bubur tandas. Hari ini baik sekali kondisinya. Aku lega dan mulai gempor terima orang-orang yang ingin menjenguk Bapak : tetangga satu RT, Mbah Wito langsung dari Panggul, Mbah Misdi langsung dari Pasuruan, Mbah Rudi dan keluarga, Pak Jumadi, Pak Sir sekeluarga, Pakde Gento.

Betapa diam-diam harapan kita saling berbagi, Bapak
Kemudian aroma hujan pada tanah kenanganmu,
Pohon-pohon doa dan permohonanmu, telah
Mengajari bahwa usia bukanlah
Satu-satunya geriap yang mampu menghitung
Seberapa tabah kebahagiaan kita dan
Seberapa pasrah kemuliaan kita…

(Badru Tamam Mifka)

Eh, aku belum pamit pada “panglima” di bandung dan pembimbing TA. Seharusnya, aku sudah beraktifitas kembali di Bandung selepas libur Lebaran ini. Kukirimkan beberapa kata dalam sebuah pesan pendek.

28 September 2009

Bapak menurun lagi kondisinya. Sedikit sekali makanan yang bisa masuk. Bapak hanya bisa menghabiskan separuh bungkus proten. Kata dokter, Bapak harus CT scan yang ternyata tak bisa langsung hari ini. Arrrgh..!

29 September 2009

Aku mengawali pagi dengan hati kesal, Bapak belum bisa CT scan hari ini. Dokter juga minta foto torak sekalian hari ini. Tapi tetap saja tak bisa.

……….

Aku marah pada diri sendiri. Aku tersinggung dengan kemiskinan yang kusandang. Ketiadaan dana membuat kami sekeluarga hanya bisa merawat Bapak disini. Kecuali nanti harus dirujuk karena fasilitas rumah sakit ini tak bisa membantu Bapak lagi. Ah, seandainya dari awal kami bisa memberikan yang terbaik. Bapak selalu memberikan yang terbaik untuk kami. Bapak tak peduli kebutuhan sendiri. Bapak tak peduli omongan orang. Yang penting adalah yang terbaik untuk kami. Lalu balasan kami? Disini, Ruang VIP nomor 4 RSUD Dr.Soedomo. Hanya itu.

My Rabb, setelah ini, hidupku harus  lebih baik. Agar aku bisa memberikan yang terbaik untuk Bapak dan Ibu. Aku tak bisa lagi menanggungkan perasaan bersalah karena menanti di rumah sakit yang lebih murah seperti saat ini. Meski aku tidak bisa lulus tepat waktu, semoga Allah memberikan waktu yang tepat. Meski mungkin akhirnya enam SKS TA berakhir dengan nilai E, semoga …

Seberapapun indahnya rencana kita, jauh lebih indah rencana Allah untuk kita. (Danang A. Prabowo)

……….comfort-daddy

30 September 2009

Bapak belum bisa foto rontgen juga hari ini. “Besok saja, biar sekalian ngangkatnya”, kata perawat. Aku tak percaya apa yang kudengar. “.. biar sekalian ngangkatnya”. Apa yang mereka pikirkan?! Bapak sudah dua hari tidak bisa makan dan minum. Dan bagi mereka, tidak bisanya Bapak makan minum sebanding dengan “biar sekalian ngangkatnya” -kerepotan mereka-. Oh, My Rabb, Bapak sudah semakin menyusut saja berat badannya.

I feel like killing these nurses and doctors..

……….

Bapak alergi plester ternyata. Kulitnya melepuh. Kulit Bapak mengelupas saat plester dilepas. “Gapapa kok, mbak.. selama ga bengkak masih bisa”, begitu kata perawat saat kuminta memindahkan infus ke tangan kanan.  “Pindah saja, Pak”, kuminta. Akhirnya mereka menyerah dan memindahkan infus. “Ini diobatinya pakai apa ya? Betadine salep bisa?”, tanyaku. Perawat mengiyakan. Kutunggu beberapa lama. Mana ini yang mau mengobati luka tangan Bapak? Eh, ternyata kami harus beli betadine sendiri. Harus mengobatinya sendiri.

……….

Bapak seolah berulangkali menggenggam tanganku saat kuoles betadine ke tangannya. Ah, Bapak….. Aku disini..

Tetapi berbahagialah, Bapak, hidup memang
Tak memberi kita tafsir yang ketat untuk bahagia
Telah kulanjutkan sisa musim

Juga sisa lading yang segar
Dan bakti yang tak pernah berhenti dan mati

(Badru Tamam Mifka)

……….

Ternyata ujian kesabaran berlanjut. Malam hari saat plester anti alergi lepas dan kakak bertanya bisakah pakai selotip, berharap mereka menambah plester anti alerginya. Ternyata kami lagi yang harus beli sendiri. Kami merekatkan plester yang lepas dengan selotip.

Aaaaargh…! This hospital’s services is killing me!

……….

1 Oktober 2009

06.00

Apakah itu air mata? Ada air mengalir di kedua ujung matanya saat kukatakan aku menyesal tak bisa memberikan perawatan kesehatan terbaik untuknya. Maafkan aku, Pak.. Jangan bersedih, lihatlah diluar, musim mengirim hadiah terbaiknya pagi ini : hujan.. Denting rintiknya sungguh menyejukkan dan mengharu biru hati. Rumpun padi di sawah kita pasti sedang tersenyum tengadah menyambutnya. Segeralah sembuh, mereka merindukanmu..

……….

10.00

Saat rekan seperjuangan berangkat ke Jakarta untuk memperjuangkan RUU Tipikor, akhirnya Bapak bisa menjalani CT Scan dan foto rontgen.

2 Oktober 2009

sekitar pukul satu

Bapak terbangun tiba-tiba. Membuka mata. Nafasnya terengah-engah. Mas panik memencet bel. Tekanan darah tak begitu tinggi sebenarnya. Lalu? Apakah Bapak memimpikan sesuatu?

……….

04.30

Aku bangun dengan perasaan dan fisik yang lebih baik setelah semalam menghabiskan bertusuk-tusuk sate kambing. Makan kadang bisa membuat perasaan lebih baik. Semoga hari ini sudah ada diagnosa dokter tentang sakit bapak.

antara pukul delapan dan sembilan pagi

Ini ada sedikit hidrocefalus karena produksi cairan yang berlebihan. Bukan karena penyumbatan saluran. Salurannya masih bagus. Jadi Bapak tidur terus karena tekanannya. Fungsi saraf dan metabolisme masih cukup bagus. Lalu ini ada metastase dari kanker nasofaringnya. Bla..Bla..“, dokter menjelaskan sambil mengacungkan hasil CT scan. “Nanti dipasang selang makanan saja”, begitu ia mengakhiri setelah kami jelaskan Bapak sudah tidak bisa menelan.

Aku berunding dengan kakak sepeninggal dokter. Kami memutuskan untuk mencari informasi dulu sebelum minta Bapak dirujuk ke rumah sakit lain.

menjelang sholat jumat saat ransum diantar

Ini mana selang makanannya kok belum dipasang? Jatah makan siang Bapak yang diantar tentu saja tak bisa dimasukkan. Aaargh..!

……….

menjelang tengah malam

Kami menembus hujan dan gelap dalam ambulan menuju surabaya. Badanku remuk.

3 Oktober 2009

pukul dua dini hari

Malaikat Izrail baru saja menunaikan tugasnya di ruang resusitasi IRD RSU Dr.Soetomo Surabaya saat kami tiba. Dik Agung sudah menunggu untuk membantu. My Rabb, terimakasih untuk semua pertolongan dan kemudahan ini.

maghrib

Setelah malalui serangkaian observasi dari dokter saraf, jantung, mata, THT dan bedah saraf (foto leher, CT Scan, tes darah, tes urin, tes jantung, periksa mata dan THT) akhirnya diputuskan Bapak operasi malam ini. Dokter akan memasang permanen alat untuk mengeluarkan cairan yang berlebihan di tengkorak Bapak. Empat setengah juta harga alatnya. Kakak menjebol tabungan yang sedianya akan digunakannya untuk mengontrak rumah.

tengah malam

Detik ini, genap empat kali Izrail singgah di ruang Resusitasi sejak kedatangan kami. Izrail menjemput dua laki-laki, satu bocah dan satu bayi. Dokter sedang berunding tentang tingkat kesadaran Bapak untuk menetukan dosis bius. Tiba-tiba Bapak membuka mata, menanyakan waktu, menanyakan cucunya, menggenggam tanganku dan kami berbicara tentang sabar. Bahwa ujian ini adalah tanda cinta dari Allah untuk kami.

Seperti tak ada yang mengenal kematian sedekat engkau

Seperti tak ada yang memahami jarak dan aroma maut sedekat engkau

(Muhammad Faiz)

Kukirim sepotong pesan pendek ke beberapa nomor saudara. Kami sangat membutuhkan bantuan doa. Karena, kami tak pernah tahu doa siapa yang sesungguhnya diijabah oleh-Nya.

with-dad4 Oktober 2009

pukul dua dini hari

Bapak didorong memasuki ruang operasi. Tergesa aku membangunkan kakak yang meringkuk di dekat pintu dan mbak yang tidur disamping kamar mayat. My Rabb, selamatkan Bapak atau ijinkan Bapak memiliki akhir yang baik.

subuh

Operasi yang dijadwalkan selesai jam 4 ternyata belum selesai juga. Khawatir mendera.

ashar

Bapak sudah berada di ROI. Dan sudah tiga kali Izrail singgah menjemput tiga nyawa sejak Bapak masuk.

maghrib

Sudah adzan dari tadi ternyata. Aku telat sholat, parah! Lalu kabar itu tiba seperti sambaran petir. Aku berusaha memijak bumi saat menangkap penjelasan mbak lewat telepon. “Jantung Bapak tidak stabil. Bapak akan mendapatkan kejutan jantung. Ibu menandatangi surat pernyataan, karena ada dua kemungkinan dari kejutan jantung yang diberikan. Kemungkinan pertama, jantung Bapak kembali bekerja stabil. Kemungkinan kedua, berhenti sama sekali.” Allahu Akbar! My Rabb, selamatkan Bapak atau berikan akhir yang baik untuknya.

Setiap saat kau bertanya-tanya
tentang jarak dan aroma maut
yang hinggap di hidung kita
dan apakah ajal
selain keakraban yang tertunda
nyala kerinduan untuk menghadap

(Muhammad Faiz)

pukul 9 malam

Jantung Bapak stabil. Alhamdulillah. Aku berusaha memejamkan mata. Letih sekali tiga hari terakhir ini.

……….

9 Oktober 2009

Hari-hari setelah Bapak operasi diisi dengan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan administrasi. Ternyata, mengurus administrasi di rumah sakit dengan pengetahuan nihil tentang denahnya saat sedang berpuasa dimana malam harinya lupa sahur itu.. sesuatu.

Mulai dari mengurus ruangan. Aku harus bolak balik Gedung Saraf A – Saraf B – Bedah I – Graha Amerta selama dua hari. Saat Dokter Yudhi mengatakan kami bisa pindah karena ada kamar kosong yang berhasil diurusnya, aku hampir jingkrak-jingkrak di koridor rumah sakit saking senangnya.

Lalu urusan resep. Aku sampai empat kali bolak-balik kantor perawat – apotek untuk mengganti resep yang ditulis di form yang salah oleh dokter muda. Belum cukup sampai disitu, mereka menaruh mayat laki-laki yang meninggal saat aku menukar resep ketigakalinya di pintu keluar. Oh, My Rabb, aku masih harus bolak-balik lewat pintu itu!

Lalu administrasi untuk MRI. Entah berapa kali aku harus berputar-putar dan berpindah gedung untuk menyelesaikannya. My Rabb, tidak bisakah kita merekayasa ulang proses bisnis di rumah sakit ini dan membuat sebuah sistem informasi yang terintegrasi?!

……….

Aku menjadi akrab dengan Izrail di rumah sakit ini. Tadi, kami bertemu lagi menjelang sholat jumat. Sesaat setelah aku dan bapak baru saja berbicara tentang syukur, sabar dan berprasangka baik pada Allah serta betapa dekatnya pertolongan Allah pada kami, Izrail datang menjemput nyawa di ruang sebelah dan mampir mengucap salam.

……….

12 Oktober 2009

Aku seperti tidak mengenal Bapak. Bapakku adalah seorang yang rapi dan sistematis jalan pikirannya. Rasional. Dan berwawasan luas. Kami sangat biasa berdebat dan berdiskusi tentang berbagai hal. Tapi sosok yang terbaring di hadapanku kini bahkan terlalu sulit baginya mencerna keberadaannya. Untuk pertama kalinya sejak Bapak sakit dua tahun lalu, aku berharap terbangun dan mendapati bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Tepat setelah lintasan pikiran itu muncul, ada suara isak tangis yang semakin keras dari ruang depan. Izrail baru saja pergi dengan sebuah jiwa. Astaghfirullah..

Barang siapa yang tidak bersabar atas cobaan-Ku, tidak mensyukuri nikmat-Ku, dan tidak rela atas ketentuan-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku

— Hadits Qudsi

……….

17 Oktober 2009

Aku berangkat ke Bandung sore ini. Aku selalu merindukan Bandung. Dinginnya. Keruwetannya. Kulinernya. Duniaku disana. Adik-adik binaan. Aku jatuh cinta pada Bandung sejak pertama kali kami bertemu. Tapi aku tak pernah membayangkan akan berangkat dengan kondisi seperti ini. Ada materi yang diduga tomur/kanker di kepala kiri Bapak. Cukup besar untuk membuat mata dan telinganya tak berfungsi. Cukup berbahaya untuk menekan batang otak sehingga jantung Bapak selalu tak stabil. Cukup sakit untuk membuat Bapak pusing sampai muntah sepanjang waktu.

Di kereta ini, hatiku remuk..