Infaq, Ta’awun dan Great Anonymous

Pagi ini saya kehilangan hape. Di angkot. Saat berangkat syuro. Saya yang sangat bangga karena meski dengan segala kecerobohan saya terhadap barang-barang pribadi, selama ini belum pernah kehilangan hape di angkot. Paling di sekre himpunan. Sampai rekan-rekan saya bosan dengan kebisaaan saya meninggalkan barang-barang pribadi. Toh, meski begitu rekan yang menemukannya selalu mengembalikan ke saya.

Saat sampai di masjid lokasi syuro, saya hanya melihat seorang rekan. Saya merogoh kantong jaket untuk mengambil hape dan menghubungi rekan lain karena jam di dinding sudah menunjukkan waktu untuk memulai syuro. Betapa terkejutnya saya menemukan kantong jaket dalam keadaan kosong. Saya ingat betul telah mengantonginya sebelum berangkat tadi. Lalu otak saya mengaitkan dengan bunyi benda tumpul jatuh di angkot tadi. Saat itu dengan tak acuhnya, saya meneruskan dzikir al matsurat kubra saya. Tidak ada urusannya dengan saya. Mungkin botol minum atau benda penumpang yang lain. Begitu yang saya pikir. Dan baru sadarlah saya, bahwa itu adalah bunyi hape saya yang jatuh.

Sontak saya berlari mengejar angkot sampai terminal. Melongok ke setiap angkot yang ada di terminal. Hasilnya nihil. Saya kalut. Bukan karena nilai hape. Tapi nilai isinya. Semua sms koordinasi dakwah yang amni dan kontak-kontak penting. Kontak yang mungkin berguna untuk masa depan saya. Kontak seorang head hunter yang menelpon menawarkan posisi sebagai account leader di sebuah IT consultant.

Setelah kalut beberapa detik, saya ingat masih punya tanggungan syuro. Dalam perjalanan kembali ke masjid, saya ingat pernah menemukan hape di angkot dan mengembalikannya ke sang pemilik lima tahun lalu. Saya mohon, Allah berkenan melakukan hal yang sama untuk saya. Sepanjang perjalanan, doa itu saya rapal. Sesampai di masjid, syuro sudah dimulai. Saya pinjam hape seorang rekan dan keluar majelis. Di tangga masjid, saya tekan nomor hape saya. Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua tidak dijawab. Hati saya mencelos. Panggilan ketiga diangkat. Alhamdulillah. Kami berjanji bertemu di jalan sunda 39A.

Selesai syuro, saya masih belum bisa mengambil hape karena masih ada satu agenda lagi membahas pembinaan. Setengah sebelas agenda selesai. Sekarang, saya harus cari hape yang bisa dipinjam untuk menghubungi hape saya karena si penemu hape menolak memberikan nomor hapenya. Bahkan menyebutkan namanya. Saya minta seorang teman menghubungi beberapa teman lain yang memiliki dua hape. Setelah sekian kali tak ada balasan atau hape tidak available untuk saya pinjam, akhirnya seorang teman bisa meminjamkan sebuah hapenya. Kami berjanji bertemu di gerbang ganesha. Tapi betapa bingungnya saat saya tidak menemukan teman tadi di gerbang ganesha. Saya tunggu tak kunjung muncul. Saya cari ke gelap nyawang, mungkin ia makan siang. Namun, setelah menyusuri kios demi kios makanan tak juga saya temukan teman itu. Saya putuskan makan siang dulu di kios terakhir yang saya kunjungi.

Saya yang seorang diri dan kios yang sepi menjadikan waktu ini tepat untuk memikirkan kejadian sepagi ini. Hal pertama yang terlintas di kepala saya adalah : malam sebelum hape saya hilang, saya mengurungkan niat untuk memberikan uang pada peminta-minta saat saya menunggu pesanan sate padang. Saya ingat-ingat lebih jauh, ternyata itu bukan kali pertama saya melakukannya. Tak sadar, beberapa bulan ini saya tak lagi menyisihkan 2,5% dari yang saya dapat di bulan itu. Tak lagi seringan tangan dulu. Padahal, Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (QS. Adz-Dzariyat: 19). Lalu bagaimana jika peminta-minta itu masih sehat atau jangan-jangan menipu? Kita tidak bias memastikan niat seseorang, maka jalan tengahnya adalah memberi sesuai kerelaan untuk menggugurkan kewajiban di depan Allah. Namun, jika si peminta-minta adalah orang yang sehat dan kuat, saya memilih untuk tidak memberi karena “Sekiranya salah satu diantara kamu membawa tali lalu pergi ke bukit untuk mencari kayu, kemudian ia pikul ke pasar untuk menjualnya demi menjaga kehormatannya, niscaya yang demikian itu lebih baik dari pada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau ditolak” (HR. Al-Bukhori). Namun, harus mengatakan dengan santun. Adapun orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya.(QS. Adh-Dhuha’: 10).

Saya juga masih punya tanggungan iqob infaq dari tanzhim karena berhalangan dalam sebuah agenda dakwah. Hal kedua yang terlintas adalah ketidakacuhan saya di angkot. Lalu saya ingat-ingat derajat kepedulian saya pada sesama akhir-akhir ini. Padahal, bagaimana sikap kita pada hamba Allah begitulah Allah memperlakukan kita. Orang-orang yang penyayang akan di sayangi oleh Yang Maha Penyayang, sayangilah apa yang terdapat di muka bumi maka maka kalian akan di sayangi oleh apa yang terdapat di langit (penghuninya)” (HR. Tirmidzi). “Barangsiapa yang memberikan kemudahan atas kesusahan seorang muslim, maka Allah Subhaanahu Wata’ala Akan memberikan kemudahan buat dia atas kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat” (HR. Bukhari). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Allah Subhaanahu Wata’ala Akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. “Barangsiapa yang (memenuhi) kebutuhan saudaranya maka Allah Subhaanahu Wata’ala Akan memenuhi kebutuhannya” (HR. Muslim).

Kesadaran ini membuat saya makin memperbanyak istighfar dalam hati. Juga bersyukur, karena Allah masih menegur. Semoga dengan kesyukuran ini, Allah menambah nikmat-Nya dengan membantu saya memperbaiki kesalahan. Saya putuskan untuk membelikan sang penemu hape buah tangan sebagai langkah awal.

Dalam perjalanan ke masjid, selepas makan, saya bertemu dengan seorang adik yang saya tahu memiliki dua hape. Dengan senang hati ia memberikan sebuah hapenya untuk saya pinjam setelah mendengar cerita saya. Masih diiringi dengan permintaan maaf karena pulsa hape tersebut nol rupiah. Tak mengapa. Kesempatan untuk langkah kedua saya piker : membelikan pulsa dengan nominal lebih dari kebutuhan saya agar sisanya bisa dipakai oleh adik ini. Dalam perjalanan ke jalan sunda dengan taksi, baru saya tahu mengapa adik ini meminjamkan hape yang tak ada pulsanya. Bukan karena perhitungan. Tapi karena hape yang satunya mati. Hal ini saya ketahui saat temannya menelpon ke hape yang saya bawa. Ya Allah.. ingin menangis rasanya membandingkan diri ini dengannya.

Ada insiden lucu di kantor si penemu hape yang membuat saya menobatkannya sebagai salah satu great anonymous dalam hidup saya. Tentang kue yang rencananya akan saya berikan. Begitu menyerahkan hape, ia langsung berlari masuk kantornya sambil menolak kue yang saya bawa. Saya bingung. Tak tahu dimana ruangannya. Tak kehilangan akal, saya taruh kue di meja ruang tamu sambil berteriak menyampaikan pesan. Biarlah penghuni kantor lain mendengar. Biar juga menjadi objek tontonan. Eh, sang great anonymous ini keluar ruangan, menyambar kotak kue dan berlari mengejar saya yang ganti berlari. Ia meraih tangan saya. Memaksa saya membawa kembali kue tersebut di halaman kantor dan kembali berlari masuk kantor. Saya bingung sendiri. Daripada bengong dan menjadi objek tontonan, saya putuskan kembali ke taksi. Di dalam taksi baru saya pikirkan siapa yang akan menerima kue ini. Dan rekan-rekan kabinet, orang-orang hebat yang meski bisa lulus tepat waktu menurut ukuran ITB bersedia menunda kelulusannya untuk “membuat Indonesia tersenyum”, menjadi pilihan saya.

Sorenya, setelah rapat, saya tak sengaja kehilangan hape untuk kedua kalinya. Kali ini di sekre KM ITB😀 Tentu saja, hape itu kembali setelah ditemukan oleh seorang rekan.