Saya Bisa

Setelah pendakian pertama untuk menyusun jalur bagi peserta diklat yang gagal. Setelah pendakian kedua dimana kami tersesat, kehabisa air minum, dan baru menemukan jalan keluar saat langit mulai gelap, hujan deras turun dan petir menyambar. Akhirnya pendakian ketiga kami bertemu puncak. The feeling was indescribable. Ini bukan tentang pemandangan di puncak dengan kabutnya yang dramatis. Bukan tentang arak-arakan awan yang indah. Bukan tentang elang yang terbang mempesona di atas kami. Bukan tentang anginnya yang lembut. Ini tentang diri saya sendiri. Tentang siapa saya. Tentang keberanian. Tentang ketakutan-ketakutan yang bisa saya lawan. Tentang apa yang bisa saya lakukan. Tentang mendengarkan intuisi dan suara hati. Tentang kesungguhan tekad. Tentang percaya pada Tuhan, pada mimpi, pada diri sendiri.

Meski ini hanya sebuah gunung dengan ketinggian 2084 m dpl, tapi perjalanan ini merangkum semua ketakutan saya dari trauma sebelumnya.  Rasa saat saya bisa melewati pipa air di atas sungai itu. Rasa saat saya bisa menemukan jalan keluar. Selamanya, akan saya catat di hati. Sebagai pengingat bahwa saya bisa. Saya hanya perlu percaya. Bukan pada ilusi yang saya ciptakan sendiri. Tapi pada Tuhan. Saya hanya perlu mendengarkan. Bukan pada stereotype yang orang-orang sekitar buat untuk saya. Tapi pada diri sendiri.

 

Advertisements

Futur

M*** sholihah, silahkan dijalani dulu biidznillah, semoga amanah tersebut mengantarkan pada nashrullah untuk berbagai aktivitas M***, insya Allah.

_____________

SMS tersebut dikirim oleh Murabbi saat sebuah amanah ditawarkan pada saya. Malam ini, saya merenungkan semua yang telah saya jalani sejak saat itu.. Dan saya hanya dikuasai oleh kecurigaan bahwa amal ini tidak diterima-Nya. Could I start all over again, My Rabb, please?

Saya merindukan betapa menyengatnya bau surga saat menapakkan langkah kaki di garis keringat dan darah jalan ini. Betapa nikmatnya mengorbankan segala hal yang bisa dikorbankan. Saya berharap masih punya waktu dan kesempatan untuk Rakib mencatat dan Atid menghapus. Berharap masih banyak kenangan indah di jalan ini yang akan Allah upload ke memori. Saya bertekad mengaktifkan potensi yang masih idle. Bertekad menemukan kembali jalan yang telah Allah bentangkan, memainkan peran dalam skenario yang telah Allah tuliskan, semuanya khusus untuk saya.

Betapa banyak orang yang menghentikan aktivitas dakwahnya untuk fokus pada kepentingan duniawi justru menuai kegagalan. Intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum.. Innallaha ‘alla kullii syaiin kodiir.. Secara formal, serah terima jabatan sudah selesai kemarin lusa. Secara internal, sebentar lagi struktur siyasi akan berganti pengurus. Tapi, camkan, tidak akan ada yang bisa menggantikan saya dalam struktur kepengurusan dakwah di muka bumi ini. Demi Allah!

What’s next?

__________

Hati, hiduplah..