Saya Bisa

Setelah pendakian pertama untuk menyusun jalur bagi peserta diklat yang gagal. Setelah pendakian kedua dimana kami tersesat, kehabisa air minum, dan baru menemukan jalan keluar saat langit mulai gelap, hujan deras turun dan petir menyambar. Akhirnya pendakian ketiga kami bertemu puncak. The feeling was indescribable. Ini bukan tentang pemandangan di puncak dengan kabutnya yang dramatis. Bukan tentang arak-arakan awan yang indah. Bukan tentang elang yang terbang mempesona di atas kami. Bukan tentang anginnya yang lembut. Ini tentang diri saya sendiri. Tentang siapa saya. Tentang keberanian. Tentang ketakutan-ketakutan yang bisa saya lawan. Tentang apa yang bisa saya lakukan. Tentang mendengarkan intuisi dan suara hati. Tentang kesungguhan tekad. Tentang percaya pada Tuhan, pada mimpi, pada diri sendiri.

Meski ini hanya sebuah gunung dengan ketinggian 2084 m dpl, tapi perjalanan ini merangkum semua ketakutan saya dari trauma sebelumnya.  Rasa saat saya bisa melewati pipa air di atas sungai itu. Rasa saat saya bisa menemukan jalan keluar. Selamanya, akan saya catat di hati. Sebagai pengingat bahwa saya bisa. Saya hanya perlu percaya. Bukan pada ilusi yang saya ciptakan sendiri. Tapi pada Tuhan. Saya hanya perlu mendengarkan. Bukan pada stereotype yang orang-orang sekitar buat untuk saya. Tapi pada diri sendiri.