Memadukan Prioritas


Imam Thabrani, Abu Nu’aim dan Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. Ibnu Abbas menceritakan, bahwa tatkala Nabi saw. Bermaksud untuk berangkat ke medan perang Tabuk, lalu beliau bertanya kepada Jadd bin Qais, “Hai Jadd bin Qais! Bagaimana pendapatmu tentang memerangi orang-orang Romawi.” Maka Jadd bin Qais menjawab, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku adalah seorang lelaki yang … Bilamana saya melihat wanita orang-orang kulit kuning saya pasti terfitnah oleh mereka, maka janganlah engkau menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.” Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Jabir bin Abdullah yang menceritakan, bahwa orang-orang munafik yang tetap tinggal di Madinah tidak ikut ke medan perang Tabuk menyiarkan berita buruk mengenai Nabi saw. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Muhammad dan para sahabatnya telah mengalami keletihan yang sangat di dalam perjalanannya dan mereka semua akan binasa.” Kemudian berita bohong mereka itu sampai kepada Nabi saw. dan para sahabatnya. Karena terbukti bahwa Nabi saw. dan para sahabatnya dalam keadaan sehat walafiat, maka berita tersebut membuat orang-orang munafik tidak senang. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam Quran surat At Taubah 49-52 untuk membukakan rahasia mereka dan menjelaskan bahwa keengganan mereka pergi berperang itu adalah karena kelemahan iman mereka dan itu adalah suatu fitnah :

Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.

Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi perang)” dan mereka berpaling dengan rasa gembira.

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (Yaitu mendapat kemenangan atau mati syahid). Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.”

Memaknai ayat-ayat ini dalam konteks bagaimana ummahat memadukan prioritas setelah menikah  amat menarik. Banyak yang pamit dari aktivitas dakwah, entah itu membina, social, atau siyasi dengan alasan mengurus keluarga, suami, anak-anak. Alasan yang nampak bagus dan benar, ridho suami, sebagaimana alasan kaum munafik di atas yang nampak indah. Memang, yang paling berhak terhadap seorang istri adalah suaminya. Yang paling berhak terhadap seorang laki-laki adalah ibunya. Tapi diatas itu semua, Allah yang paling berhak terhadap diri kita.

Ketika ada seorang ummahat, anaknya bermasalah dalam belajar misalnya, dan ummahat ini aktif dalam kegiatan dakwah, komentar yang terlontar dari kebanyakan kita yang memposisikan diri dalam “comfort zone” tadi senada dengan ayat 50. “Tuh, kan, makanya saya ga mau terlalu aktif dalam kegiatan karena bla..bla..bla..”. Masya Allah. Seharusnya hal pertama yang dilakukan adalah instropeksi. Bisa jadi itu terjadi karena kita mendholimi saudara kita dengan terlalu berasyik masyuk dalam “comfort zone”! Beban amanah yang seharusnya ditanggung bersama jadi ditanggungnya sendirian.

Dengan perkembangan dakwah saat ini, semakin banyak hal yang harus ditangani. Dan dengan tanggung jawab yang ada tersebut, ada bagian-bagian yang harus mengalah. Disinilah peran ta’awun antara suami istri sebagai partner dakwah. Urusan ridho itu bukan sesuatu yang saklek. Ada konteks dan kompromi. Ada komunikasi dan kerjasama. Bukankah tujuan saat menikah adalah untuk menggenapkan separuh dien? Agar dien itu benar-benar menjadi genap, maka separuh dien yang lain sebelum menikah berupa amalan pribadi dan social harus tetap dijaga. Itulah mengapa disarankan untuk menikah dengan pasangan yang sekufu dalam pemikiran, penghayatan dan tindakan (baca : sesame aktivis dakwah). Aktivitas dakwah kita akan optimal saat kondisi keluarga kondusif.

Jikalau setelah semua usaha terbaik dilakukan, tetap tidak bisa berkontribusi sebagaimana saudara yang lain, kita cari kompensasi amal. Jika kita punya kekurangan di satu sisi, maksimalkan di sisi yang lain. Allah berjanji dalam Al Baqarah 286 tidak akan membebani di luar kesanggupan hamba-Nya. Dan meminta hamba-Nya bertaqwa sesuai kemampuannya dalam At-Taghobun 16. Beda “semampu kita” dan “semau kita” terletak pada kesungguhan kita mengusahakannya.

Tulisan ini tidak hendak mengajak untuk meninggalkan dakwah dan tanggung jawab keluarga. Tidak! Tapi mengajak untuk lebih bijak (tawazun) memadukan prioritas dan menyingkirkan prasangka-prasangka negative yang selama ini ada di pikiran kita tentang dakwah vs keluarga. Adalah penting untuk berprasangka positif pada Allah, bukankah Allah mengikuti persangkaan hamba-Nya? Apa yang kita sangkakan, maka begitulah Allah akan menyampaikan. Dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, “kun fayakun”.  Yakinlah, bahwa janji Allah bagi orang-orang yang berjuang di jalan ini adalah benar. Dan tunggulah apa yang akan Allah takdirkan, kemenangan atau kesyahidan.

(Oleh-oleh dari konsolidasi Salimah PW Jabar 28 Agustus 2010)