Ringkasan “Psiko Harmoni Rumah Tangga”

“Kalau Anda sedang bicara, telinga siapakah yang paling bisa mendengar perkataan Anda?” -pertanyaan ironi-

Sebelum mudik lebaran kemaren, saya menyempatkan membeli oleh-oleh buku untuk akhwatifillah. Salah satunya untuk ex kaput rohis yang menikah. Buku yang saya pilih untuk beliau adalah “Psiko Harmoni Rumah Tangga” karya Izzatul Jannah. Dan sebelum buku itu terbungkus rapi oleh kertas kado yang saya beli, sudah pasti saya tak menyiakan kesempatan membacanya. Berikut ini adalah informasi bermanfaat yang saya dapat dari buku tersebut :

  1. Saat berkomunikasi yang penting untuk diperhatikan justru bukan apa yang dikatakan melainkan bagaimana cara mengatakan dan mengapa hal itu dikatakan.
  2. Mendengarkan secara aktif dengan menggarisbawahi atau memvalidasi, misal menanyakan, “maksudmu A B C ..?” dan merespon jawabannya dengan memaparkan apa yang kita tangkap, missal, “menurutku itu D E F ..”. Hal ini diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman.
  3. Untuk meminimalisir konflik yang destruktif dan melakukan konflik yang konstruktif, diperlukan: a) spesifik dalam keluhan, meminta perubahan yang reasonable dan membatasi hanya satu isu dalam satu waktu, b) pastikan saling memahami dengan meminta feedback atau melakukan validasi dan terbuka dengan perasaan sendiri dan pasangan, c) focus dengan persoalan sekarang, jangan membebani dengan keluhan di masa lalu yang tidak relevan dan d) kompromi, perlu diingat bahwa suami istri adalah tim bukan lawan tanding, jadi perlu belajar berempati terhadap sudut pandang pasangan.
  4. Untuk membangun kedekatan diperlukan pujian yang spesifik dan akurat. Alih-alih mengatakan “kamu cantik” katakanlah “kamu cantik memakai jilbab biru”. Selain itu diperlukan keterbukaan tentang emosi bukan hanya informasi. Keterbukaan terhalang oleh ketidakamanan/ketakutan akan reaksi lawan bicara (khawatir informasi yang diberikan akan digunakan untuk menyerangnya di masa datang), atau reaksi lawan bicara yang tidak klop dengan gambaran mereka tentang diri mereka sendiri dan tingkat kesadaran diri. Semakin tinggi kesadaran diri (self understanding) seseorang semakin mudah ia menerima penolakan, kritik, konflik, perbedaan, dsb sehingga semakin terbukalah ia. Berikut ini adalah tips untuk mengkomunikasikan emosi/perasaan : a) lihat tanda non verbal, tanyakan dengan hati-hati, jangan menunggu ledakan emosinya, b) duduk berdua berhadapan atau apapun lah yang menunjang ekspresi perasaan saling terbuka, c) jangan berekasi berlebihan, bersimpati dengan menguasai perasaannya (bergabung dengan perasaan pasangan dengan merasa sama terlukanya/marahnya) justru akan mengecilkan hatinya, jadi berbagilah dengan lebih positif, d) jangan menggunakan apa yang sedang dibicarakannya sebagai senjata di kemudian hari.
  5. Menjadi seseorang yang sangat jujur dengan menyampaikan seluruh informasi atau emosi bukanlah hal terbaik dalam mengembangkan sebuah hubungan. Sensitiflah terhadap nilai orang lain, bicarakan sesuatu dengan akurat, lembut, dan bijaksana. Untuk mengetahui apa yang harus dikatakan, tanyakan hal berikut terlebih dahulu sebelum membuka mulut: a) apakah yang saya sampaikan benar? b) apakah berguna baginya mengetahuinya? c) apakah saat dan situasinya tepat? d) apakah kapasitas emosi saya dan dia siap menerima kejujuran?
  6. Jangan terjebak pada persepsi. Berusahalah mengetahui apa yang dipikirkan, diinginkan, dirasakan dan dilakukan oleh pasangan lalu konfirmasikan padanya untuk mendapatkan persepsi yang sama.
  7. Pendengar butuh mendengar penyampaian yang tulus, tidak self centric. Untuk menciptakan kenyamanan lawan bicara perlu dihindari komunikasi yang disampaikan dengan negatif (menyalahkan, menghakimi, dll).
  8. Dengarkan tanpa menghakimi, menyalahkan, memberi kritik atau nasehat yang diminta atau tidak diminta.
  9. Ujian dari-Nya adalah upaya pembentukan karakter. Ujian itu akan menunjukkan derajat manakah yang pantas ditempati oleh orang yang diuji sesuai dengan upayanya melewati ujian. (Al Ahqaf 19)
  10. Kesiapan memulai proses adalah kesiapan menanggung risiko, menerima dengan kekurangan pasangan atau menolak dengan waktu yang terus berjalan, usia yang bertambah dan lingkungan keluarga yang bertanya-tanya. Ta’aruf adalah ikhtiar. Bisa gagal. Sebagaimana pernikahan bisa diceraikan, khitbah bisa dibatalkan, ta’aruf juga bisa dihentikan.

Yang menarik dari buku ini adalah perangkat tes untuk lebih mengenal dan memahami diri. Berikut ini adalah hasil tes saya :

  1. Pertama tes tentang cara mencintai. Skor 95% untuk pragma (logical), 85% untuk agape(unselfish), 82,5% untuk eros (romantic) dan mania (posesif), lalu 80% untuk storge (friendship) dan terendah 70% untuk ludus (game-playing). Penjelasan detail keenamnya ada dalam buku namun keterangan sekilas dapat dilihat disini http://www.cyberparent.com/romance/romance-love-styles.htm
  2. Selanjutnya, tes tentang player model. Ternyata skor untuk mover dan follower saya sama-sama sempurna dan diikuti oleh opposer. Tapi skor saya nihil untuk menjadi seorang bystander. Penjelasan sekilas tipe-tipe tersebut dapat dilihat disini http://mitleadership.mit.edu/r-fpmodel.php
  3. Lalu, tes tentang tipe interaksi. Seperti biasa saya mendapat nilai tertinggi untuk koleris (29) diikuti oleh melankolis (26). Skor untuk sanguinis dan plegmatis sama-sama 18. Penjelasan keempat tipe dapat dilihat disini http://www.catholicmatch.com/temperaments.html
  4. Sedangkan tes tipologi kepribdian Jung, skor yang saya dapat secara berurutan adalah 14 untuk ekstraversi intuisi, 11 untuk ekstraversi perasaan, 10 untuk ekstraversi penginderaan, 9 untuk ekstraversi pemikiran, 8 untuk introversi pemikiran, 5 untuk introversi perasaan, 4 untuk introversi intuisi dan 1 untuk introversi penginderaan. Keterangannya dapat dilihat disini http://sucianimade.blogspot.com/2009/04/pendidikan-dan-pelatihan-pengembangan_1981.html

Yang tak kalah menarik dan bermanfaat dari buku ini adalah tips untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan mengetahui dari pasangan informasi mengenai:

  1. Pola hubungannya dengan ibu/ayah.
  2. Urutan dalam persaudaraan, pola hubungannya dengan saudara dan peran yang ia mainkan diantara saudaranya.
  3. Bagaimana ekspresi kemarahannya, bagaiamana menenangkannya, bagaimana ingin diperlakukan saat marah.
  4. Apa yang diinginkannya dari dirinya sendiri dan pasangannya jika sedang sedih. Saat ia bersedih, tentu perlu juga mengetahui apa yang membuatnya bersedih.
  5. Bilamana ia cemburu dan bagaimana ekspresinya.
  6. Seperti apakah gambaran konflik baginya (sekedar berselisih pendapat, pertengkaran hebat, atau bentuk lainnya) dan sejauh apa ia menoleransi konflik.
  7. Seperti apa ayah/ibu yang baik menurutnya.
  8. Apa arti orang tua baginya dan bagaimana akan berhubungan dengan mereka setelah menikah nanti.
  9. Apakah ia akan mendukung aktivitas anda yang bermanfaat dan seperti apa bentuk dukungannya jika anda ingin … (sebutkan keinginan anda)
  10. Bagaimana tanggapannya jika anda melakukan kesalahan.