Bunuh Diri

pict’s source

Ada hal yang mengusik pikiran saya beberapa hari terakhir ini tentang takdir maut dan bunuh diri. Begini, dalam sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan ciptaannya dalam rahim ibunya, selama empat puluh hari berupa nutfah (air mani yang kental), lalu menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu pula, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan mencatat 4 (empat) hal yang perlu ditentukan, yakni: rezeki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagianya.

Demi Allah, Dzat yag tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya setiap kalian ada yang beramal dengan amalan peghuni surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta (dari siku sampai ke ujung jari). Lalu suaratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka.

Ada juga di antara kalian yang beramal degan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dia dan neraka hanya sehasta. Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli surga maka ia pun masuk surga.”

Dalam hadits di atas, jelas disebutkan bahwa ajal sudah ditentukan oleh Allah. Nah, jika Allah yang menentukan ajal, mengapa Allah mengganjar para pelaku bunuh diri dengan neraka dalam hadits riwayat Muslim

“Barangsiapa bunuh diri dengan besi, maka di neraka jahanam nanti besi itu selalu di tangannya, ia menusuk-nusukkannya ke perutnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, maka di neraka jahanam nanti ia akan terus meminumnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka di neraka jahanam nanti, ia akan menjatuhkan (dirinya) selama-lamanya.”

Salah satu sifat Allah adalah berkehendak. Dan jawaban dari pertanyaan di atas adalah karena memang Allah menghendakinya demikian. Hanya Allah yang mengetahui rahasia dari setiap ketentuan yang Dia buat. Manusia hanya bisa menafsirkan atau mencari hikmah dari setiap ketentuan tersebut. Baik ketentuan tentang suatu hukum maupun ketentuan yang menimpa hidup hamba-Nya.

Saya meyakini bahwa

  1. Allah Maha Adil dan tidak pernah mendholimi hamba-Nya.  “Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Yasin 53)
  2. Allah menentukan tatanan untuk alam semesta ini yang mengikat antara akibat dan sebab-sebabnya (Aqidah Islamiyah by Sayyid Sabiq Bab Qadar). Jika kita ibaratkan dengan graf, Allah sudah menentukan path-path yang bisa kita tempuh dan node-node yang mengakhirinya.
  3. Allah menurunkan petunjuk bagi manusia sebagai panduan dalam memilih path yang akan dijalaninya berupa Al Quran dan hadits. Termasuk di dalamnya bahwa Allah Maha Rahman dan bahwa pertolongan Allah adalah dekat maka kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. (tafsir QS An Nisa 29)
  4. Manusia diberikan oleh Allah kemampuan untuk berkehendak dan berikhtiar dalam memilih path mana yang akan ia jalani yang tentunya akan menentukan di node mana ia akan berakhir. (Ar Ra’du 11)

Jadi, orang yang bunuh diri memilih untuk tidak percaya bahwa Allah Maha Rahman seperti yang dikabarkan dalam Al Quran dan neraka hanyalan konsekuensi dari pilihannya itu.

Pertanyaan yang mengusik selanjutnya adalah, jika

“ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Q.S. Asy-Syams 8 )

mengapa Allah tega membiarkan hamba-Nya bunuh diri? Apakah Allah sengaja menciptakan hamba-Nya untuk disiksa dalam neraka? Tentu saja tidak, ada jiwa-jiwa yang dirahmati-Nya

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS Yusuf 53)

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana agar jiwa kita termasuk dalam jiwa yang dirahmati-Nya? Jawabannya kembali lagi pada QS Ar Radu 11

” Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Lalu, usaha apakah yang harus kita lakukan agar Allah mengubah jiwa kita agar berada dalam kebaikan?

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh di jalan Kami sungguh benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” ( QS Al Ankabuut: 69).

Jadi, mari bersungguh-sungguh di jalan-Nya agar tidak berakhir bunuh diri🙂