Mah.., Inikah Tuhan?

“Ben Gusti Allah brebeg (Biar Tuhan bising)”

Icha, seorang bocah 5 tahun saat meniup terompetnya keras-keras pada malam tahun baru 2004.

my review for a book by Duma Rachmat A.

Begitulah. Anak memiliki gagasan yang orisinil tentang Tuhan. Gagasan Icha, yang menggabungkan pengetahuannya bahwa Tuhan bisa mendengar dan kalau terompet ditiup keras-keras akan mengganggu pendengaran, biasanya tidak ditemukan pada orang dewasa. Orisinalitas gagasan ini akan berubah seiring dengan perkembangan tahapan pemikiran anak. Saat anak memasuki tahap pemikiran operasional konkret (10-11 tahun), gagasan orisinil seperti ini akan mulai hilang. Pada tahap ini, anak sudah banyak mengadopsi gagasan orang dewasa di sekitarnya mengenai Tuhan melalui pengajaran dan sudah banyak bertemu realitas ketuhanan dalam pengalamannya.

Memahamkan Tuhan pada anak adalah proses yang gampang-gampang susah. Gampang karena ketertarikan anak secara alamiah terhadap konsep Tuhan akan menghasilkan banyak momentum agi orang tua untuk menjelaskan konsep Tuhan. Dan susah karena konsep Tuhan merupakan konsep rumit yang tersusun dari berbagai konsep lain seperti konsep kekuasaan, keadilan, kebaikan, kesucian keesaan, keindahan, dan banyak hal lainnya. Belum lagi kata maha yang disatukan dengan berbagai kata sifat untuk menyifati Tuhan. Kesemua hal ini menjadikan konsep Tuhan adalah konsep dengan abstraksi yang tinggi.

Setiap anak memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda dan pengalaman belajar yang tak sama sehingga konsep Tuhan ini pun bersifat individual. Namun, dengan latihan dan pengajaran nilai yang serupa akan mampu membimbing anak kea rah konsep yang serupa. Konsep berkembang mengikuti pola. Arti yang baru mengenai sesuatu akan dikaitkan dengan yang lama. Begitu seterusnya sehingga konsep yang dulunya sederhana menjadi kompleks dan yang dulunya konkret menjadi abstrak. Misal, sebelumnya anak melihat cicak dan dikatakan bahwa cicak diciptakan oleh Tuhan. Lain waktu, ia mendengar penuturan orang dewasa bahwa Tuhan Maha Besar. Anak akan mengaitkan bahwa Tuhan yang menciptakan cicak itu Maha Besar. Konsep ini akan bertahan terhadap perubahan. Makin besar bobot emosional (positif maupun negatif) sebuah konsep, makin kuat daya tahannya terhadap perubahan. Ketika anak memiliki konsep yang bobot emosionalnya memuaskan, anak akan memegangnya sampai anak mengembangkan konsep lain yang member kepuasan sama atau lebih besar. Bobot emosional ini bisa berubah (bertambah maupun berkurang) seiring dengan penambahan arti baru pada konsep. Kemudian, konsep ini akan mempengaruhi perilaku. Konsep yang positif mendorong perilaku positif dan sebaliknya. Semua konsep akan mempengaruhi pandangan individu terhadap dirinya, penyesuaian dengan orang lain, dan terhadap masalah yang dihadapinya. Kualitas perilaku seseorang menunjukkan kualitas konsep yang dipahaminya.

Pembentukan konsep mengenai Tuhan pada anak dipengaruhi oleh 1) hubungan dengan orang tua, 2) hubungan dengan significant others, 3) harga diri, 4) pengajaran mengenai Tuhan, 5) praktik keagamaan. Ini adalah pendapat yang dikemukakan oleh Bernard Gorn. Penulis menambahkan  1) kesiapan berpikir anak, 2) spiritualitas, dan 3) pengalaman.

Anak belajar salah satunya dengan bertanya. Bertanya adalah cara yang digunakan anak untuk mengetahui lebih lanjut tentang obyek yang menggugah rasa ingin tahunya. Metode ini akan dipakainya sepanjang sisa hidupnya tergantung dari kepuasan yang diperoleh selama tahun-tahun awal ia menggunakan metode ini untuk mendapatkan informasi. Maka, menjadi penting menjawab pertanyaan anak sesuai dengan kesiapan berpikirnya. Pada usia 2-6 tahun, anak sudah bisa berbahasa dan mampu berpikir secara simbolik (ex, bermain pasaran dengan daun sebagai uang). Pada tahap ini anak menganggap semua orang berpikir seperti dirinya. Pada usia ini pulalah, anak akan banyak melontarkan pertanyaan “mengapa”. Pada usia 6-11 tahun, konsep dalam diri anak mulai jelas, konkret dan spesifik. Anak sudah mampu membandingkan apa yang dipikirkannya dengan apa yan gdipikirkan orang lain. Saat inilah anak “diminta” untuk senantiasa menimbang-nimbang kebenaran gagasan yang dimiliknya dengan gagasan anak/orang lain yang berinteraksi dengannya. Selanjutnya, pada usia >11 anak sudah mampu membuat berbagai hipotesa untuk permasalahannya dan menggabungkan informasi dari berbagai sumber.

Saat anak bertanya, ia sedang tergugah dengan obyek yang dia tanyakan. Jadi, saying sekali bila melewatkan momen ini untuk memahamkan konsep Tuhan pada anak. Masalahnya adalah seringkali pertanyaan anak “ajaib” dan membuat bingung orang tua bagaimana harus menjawabnya. Biasanya, anak akan bertanya tentang wujud dan keberadaan Tuhan, aktivitas ketuhanan, dan “sesuatu yang lain” di sekitar Tuhan seperti surga. Beberapa pertanyaan bisa dijawab sesuai dengan konsep dalam agama. Tentu saja dengan bahasa dan logika yang disesuaikan pula dengan kesiapan berpikir anak. Lalu bagaimana dengan pertanyaan yang melampaui batas teologis? Ada beberapa alternative menjawabnya, 1) dengan dongeng, missal kisah Musa mencari Tuhan dan 2) bertanya mengapa anak menanyakan hal tersebut akan membantu anak mengembangkan gagasan mengenai Tuhan yang dimilikinya. Ya, kadang kita tidak perlu tergesa menjawab pertanyaan anak karena ia bisa mengembangkan sendiri gagasannya. Seorang bocah perempuan pernah bertanya pada mamanya, “Apakah Tuhan tinggal di langit? Ia tinggal dengan siapa?”. Sebelum mamanya menjawab, gadis kecil itu terlebih dahulu menyahut pasti, “mama, mama, kalau Tuhan itu tinggal di langit, Ia pasti kesepian. Aku ingin sekali menemani-Nya..”.

Selanjutnya adalah spiritualitas. Spiritualitas pada anak jauh lebih dekat dengan perasaan gembira. Karenanya, penting untuk menjaga kegembiraan anak, membuat ajaib setiap aktivitas, menjadikannya permainan yang menyenangkan, dan mencintainya dengan benar.  Ya, mencintai dengan benar. Hal ini ada hubungannya dengan factor hubungan dengan orang tua. Anak bisa menangkap apa yang sedang dialami oleh orang tuanya. Maka, penting bagi orang tua untuk memperhatikan sikapnya pada anak. Tidak membohonginya, meminta maaf bila salah, dsb.

Cintailah anak-anak dan kasih sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui, hanya kamulah yang memberi mereka rizki. (Rasulullah)

Anak memandang Tuhan dengan pandangan orang yang dipercayainya. Orang tua dan guru! Dan itu bukan hanya dari perkataan. Anak akan belajar bagaimana menghayati Tuhan dari perilaku orang yang dipercayainya saat ia marah, sedih, sibuk, sholat, sedekah, mengetahui lauk ikannya dicuri kucing, dsb. Semua perilaku dalam setiap situasi baik sadar ataupun tidak. Jadi, penting sekali menghidupkan gagasan mengenai Tuhan dalam diri sebelum mengajari anak. Mungkinkah bercerita mengenai Tuhan saat masih meraba-raba Tuhan seperti apa? Ah, yang benar saja.. anak akan merasakan kehadiran-Nya, cinta-Nya melalui orang tuanya. Dan setiap kesan ini, dari perkataan atau perilaku, akan direkam oleh anak dan digabungkan dengan konsep yang telah ada.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengajaran konsep Tuhan adalah keberimbangan sifat Tuhan. Hal ini ada hubungannya dengan harga diri anak, citra dirinya. Anak yang dibesarkan dengan pernyataan, “Tuhan akan menghukummu” sebagai control perilaku akan cenderung menyalahkan dan mencela diri. Cara pandang terhadap dirinya ini kemudian mempengaruhi cara pandangnya terhadap Tuhan. Abraham Maslow meminta 1940 mahasiswanya yang beragama untuk menjawab pertanyaan, “Bayangkanlah Anda terbangun dari tidur dan mendapati Tuhan berada di kamar Anda sedang memandangi Anda. Bagaimana perasaan Anda?”. Ternyata, mahasiswa yang masuk kategori aman menjawab merasa terhibur dan terlindungi sementara mahasiswa pada kategori tidak aman menyatakan kalau dirinya takut. Temuan anthropologist Ruth Benedict tentang dewa-dewa pada suku Indian pun senada. Dalam masyarakat yang aman, dewa-dewa digambarkan baik hati, suka menolong dan bersahabat. Sebaliknya, pada masyarakat yang tidak aman, dewa-dewa digambarkan sebagai sosok yang jahat dan menakutkan.

Sebenarnya, citra diri dan konsep Tuhan ini memiliki hubungan timbal balik. Tuhan yang mengasihi, baik dan melindungi akan membantu anak mengembangkan kepercayaan dirinya. Anak akan memiliki keberanian saat jauh dari orang tuanya, bertemu anak nakal dan bahaya lainnya. Anak merasa aman dengan Tuhan. Perasaan ini lebih jauh akan mendorong anak untuk berhubungan dengan Tuhan dengan sendirinya. Anak akan merasa bebas menceritakan pada Tuhan tentang pikiran, perasaan, kecemasan dan pengalaman yang tidak mau dibaginya dengan orang lain.

Pengalaman anak juga akan mempengaruhi konsepnya mengenai Tuhan, pengalaman positif maupun negative. Pengalaman negative sama kuatnya dalam membentuk dua sifat Tuhan : baik dan jahat. Tentu saja campur tangan orang yang dipercaya akan menentukan kesan mana yang ditangkap. Dialog antara Dewi, seorang bocah pengidap luekimia, dengan ibunya ketika leukimianya kambuh bisa menggambarkan,

Dewi : “Gusti Allah ki yo gak nambani yo Mak..? (Gusti Allah itu kok tidak menyembuhkan, ya Mak..?)”

Ibu ; “Thek gak nambani? Nek ra nambani ta wis mati to, Nduk. (Kok ga menyembuhkan? Kalau tidak menyembuhkan kamu sudah mati, Nak.)”