Benarkah Cinta?

Ada teman yang mempertanyakan tentang cinta karena tergelitik dengan fakta banyaknya selebritis yang kawin cerai atau berganti pasangan.

Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, ada tiga hal yang bisa menjadikan cinta itu muncul :

1. adanya hal istimewa yang terdapat pada sesuatu. setiap manusia pada dasarnya memiliki keistimewaan, apapun bentuk keistimewaan itu, pasti setiap manusia memilikinya dan biasanya bersifat spesifik.

2. adanya perhatian pada hal istimewa pada poin yang pertama. Perhatian ini muncul dari sesuatu yang berbeda (dari orang yang berbeda terhadap orang yang memiliki hal istimewa tersebut).

3. adanya interaksi antara keduanya (hal istimewa bertemu dengan perhatian terhadap hal istimewa tersebut).

Masih menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam sebuah bukunya, cinta memiliki tanda (gejala). Diantaranya (seingat saya), selalu mengingat-ingat, sering menyebut nama yang dicintainya, menuruti permintaannya, senang mendengarkan pembicaraannya, bersegera untuk bertemu, berdebar hatinya bila bertemu, merasa tenang padanya, menyayangi semua yang disayanginya, mengaguminya, takut (bila ditinggalkan, dibenci, dsb), rela berkorban untuknya, dsb. Jika tanda-tanda itu ada pada seseorang, saya menganggap ia sedang jatuh cinta. Cinta yang dia rasakan ini bisa membawa kepada kebaikan atau keburukan tergantung bagaimana dia menyikapinya. Ketika cinta yang dirasakan dikelola dalam koridor aturan-Nya, maka ia akan menjadi kebaikan dan sebaliknya.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Ali-Imran: 14). Para ulama berbeda pendapat dalam menafsiri ayat tersebut. Ada yang menafsirkan, setan-lah yang menjadikan indah untuk menjerumuskan manusia pada kesenangan dunia semata. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa Allah-lah yang menjadikannya indah sbg bagian dari fitrah manusia. Saya cenderung sepakat dengan keduanya. Bahwa Allah yang menjadikannya indah sebagai fitrah, namun ketika fitrah ini tidak dikelola dengan aturan-Nya, maka setan akan menjadikannya kesempatan untuk menyesatkan manusia. Mungkin ini yang melatarbelakangi fakta di atas.

Apakah orang yang berganti-ganti pasangan atau kawin cerai tidak saling mencintai? Menurut saya belum tentu. Bisa jadi jalan perceraian diambil karena itu lebih baik bagi keduanya. Atau bisa jadi mereka saling mencintai sebelumnya, hanya saja cinta tersebut tidak dirawat dan disikapi dengan tepat. Misalnya, tidak menjaga diri. Kan dalam Al Anfal 24, Allah berfirman “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dikumpulkan.” Dan Dalam Shohih Muslim, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya hati-hati bani Adam seluruhnya berada diantara dua jemari Ar Rohman …dst”. Dari keduanya bisa disimpulkan bahwa Allah lah yang menguasai hati kita. Allah yang membolak-balikkannya menurut kehendak-Nya. Karena itu, Allah menyuruh kita menjaga pandangan, pendengaran, lisan, dsb. Karena kita tidak tahu, dari pandangan yang mana, pendengaran yang mana, interaksi yang mana, kecenderungan atau lebih jauh cinta itu akan tumbuh. Ketika dua orang saling mencintai atau sudah menikah, tapi pandangan, angan, tangan, perhatian masih kemana-mana dan tiga hal di atas (yang bisa menjadikan cinta menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyyah) terpenuhi maka bisa saja cinta pada yang lain akan tumbuh juga. Lalu.. bisa macam-macam kelanjutannya, silahkan diteruskan sesuai dengan imaginasi masing-masing..😀

Btw, terkait hal ini ada hadits yang menarik loh, “Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu menceritakan wanita tersebut kepada suaminya, sampai seolah dia (suami) melihat wanita tersebut.” (HR. al-Bukhari). Bukan bergaulnya yang dilarang, tapi menceritakan. *tanyakenapa?

Bisa jadi juga fakta di atas muncul karena pemahaman tentang pernikahan. Kan pernikahan adalah ibadah. Dan sebagaimana ibadah lainnya, pernikahan juga memiliki ujiannya sendiri. Perbedaan sikap, pilihan karir beserta dinamika kerjanya, tekanan ekonomi, rutinitas, percikan kenangan lama dan ujian lainnya mungkin akan menggoda di tengah jalan pernikahan. Jika disikapi dengan tidak tepat, maka akan muncul apa yang sering dsebut dengan “sudah tidak ada kecocokan lagi”. Mereka yang mendasarkan pernikahan pada kecocokan akan merasakan si “sudah tidak ada kecocokan lagi” ini sebagai dorongan untuk bercerai. Islam memang tidak melarang perceraian. Tapi, mereka yang menjadikan pernikahan adalah ibadah mungkin masih bisa berkompromi dan menyelesaikannya selama masalahnya bukan pada urusan agama yang prinsipil.

Sudah ah, saya jadi takut sendiri. Tidak berani berkomentar lebih lanjut. Semoga, kita bisa membingkainya menjadi ibadah dalam koridor-Nya ketika cinta hadir di hati kita. Amiin.