Pastikan Itu Halal!

Suatu waktu saat menjadi khalifah, ALi bin Abi Thalib menitipkan untanya kepada seorang pemuda karena ada keperluan di suatu tempat. Sepulang dari tempat tersebut, khalifah ‘Ali mendapati untanya tidak dijaga dan telah hilang pelananya.

Khalifah ‘Ali pun pergi ke pasar. Ia berpikiran bahwa ada kemungkinan pemuda tersebut menjual pelananya di pasar. Benar saja, ia menemukan pelana yang persis dengan miliknya menjadi barang dagangan di lapak seorang penjual.

Khalifah ‘Ali bertanya, ‘Darimana Anda dapatkan pelana ini?’,

‘Dari seorang pemuda yang menjualnya kepada saya’, jawab sang penjual pelana.

Khalifah ‘Ali lalu menceritakan kejadian sebelumnya dan bertanya kembali, “dengan harga berapa pelana ini Anda beli?”

“20 dirham, ya khalifah”.

Dan khalifah ‘Ali bin Abi Thalib pun berkata, “MasyaAllah… pada saat Anda memberikan uang 20 dirham kepada pemuda tersebut, saya hendak memberikan uang dengan jumlah yang sama kepadanya atas kesediaannya menjaga unta saya. tapi pemuda itu lebih memilih mendapatkannya dengan cara lain”

__________

Dari Abi Abdillah An-Nu’man bin Al-Basyir ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya adalah masalah yang mutasyabihat (syubhat). Kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Siapa yang takut (berhati-hati) dari masalah yang syubuhat baginya, maka dia telah terbebas (selamat) demi agama dan kehormatannya. Sedangkan orang yang jatuh dalam masalah syubuhat, dia jatuh ke dalam perkara yang haram… (HR Bukhari dan Muslim)

Jika hadits di atas dipahami sesuai dengan bahasanya belaka, maka didapat kesimpulan bahwa yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, lalu di tengah keduanya adalah hal yang syubhat, siapa yang jatuh ke dalam syubhat, maka dia akan jatuh ke dalam yang haram. Kesimpulan itu tidak tepat, karena tersirat bahwa yang syubhat itu sudah pasti haram hukumnya. Padahal, tidak demikian kebanyakan ulama memahami hadits ini. Syeikh Shalih bin Abdul Aziz dalam syarah haditsnya menuliskan bahwa yang dimaksud dengan masalah mutasyabihat adalah hukum sesuatu yang kurang dimengerti oleh orang awam. Karena itu dalam teks hadits ini secara tegas disebutkan, “Kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”.

Jadi, hadits ini menjelaskan adanya perbedaan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang tidak berilmu akan kesulitan untuk mengetahui hukum-hukum syariah, karena itu dia wajib untuk bertanya kepada yang berilmu, agar tidak jatuh ke dalam masalah yang haram. Dalam Syarah Arba’in Nawawiyah dijelaskan bahwa makna kalimat “Siapa yang jatuh ke dalam masalah syubhat” adalah orang bodoh (awam) yang tidak tahu hukum seharusnya tidak menabrak perkara yang dia belum tahu ilmunya. Dia harus bertanya kepada orang yang berilmu, kalau tidak, maka dia boleh jadi jatuh ke dalam sesuatu yang diharamkan.

i borrow the pic

Bisa jadi, setiap yang tidak halal yang diperoleh dan dinikmati seseorang sebenarnya telah hak baginya yang ditetapkan oleh Allah. Hanya saja, ia tidak cukup bersabar dan bekerja keras menjemputnya dengan cara yang baik.

Bisa jadi, apa yang kau inginkan telah menjadi bagian ketetapan Allah atas dirimu. Jadi, jemputlah dengan cara yang benar dan usaha terbaik yang kau bisa. Tak usahlah menjemputnya dengan jalan yang tidak memuliakan dirimu sebagai manusia yang bebas.

Kau hanya perlu bertanya jika tidak tahu. Lalu ambil atau tinggalkan. Teguhkan hatimu. Allah sungguh tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Tidakkah kau percaya?