Beyond Words

Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah ngijabahi

Malam ini, selepas isya, saat menekuri Riyadhus Sholihin, ibu menelpon dan menyanyikan tembang di atas. Lalu dibacakannya terjemahan ayat 130-135 dari Surat Ali Imron :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa mereka–dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

Lalu ibu bercerita tentang perjuangannya dulu. Bagaimana ia memanen jagung, mengupasnya, menjemurnya, memipihnya, menjemurnya lagi, menumbuknya, menapihnya, merendamnya, menumbuknya lagi, lalu menanaknya menjadi nasi jagung untuk dimakan. Bahwa hidup itu harus berjuang untuk meraih apa yang diimpikan. Tak peduli seberapa beratnya, itu haruslah cara yang diridhoi-Nya. Dan ibu janji akan selalu doakan agar Allah menyampaikan cita-cita.

“Sudah semangat sekarang?”, tanya ibu.

Ah, ibu…

Padahal ibu sendiri sedang sakit. Sesungguhnya, lebih pantas bungsumu ini yang menghiburmu. Tak seberapa lelahku saat ini, sakitku saat ini, dibandingkan dengan pengorbanan ibu untuk keluarga kita. Tapi ibu selalu begitu. Selalu mendahulukan ayah dan kami. Dirinya sendiri adalah urutan kesekian.

Lalu ibu meminta mencari tafsir Ali Imron ayat 130-135 sebelum mengakhiri sambungan telepon. Tak lupa, ibu berpesan untuk mengamalkan dzikir yang diajarkan Rasulullah pada Fatimah sebelum tidur, 33 kali tasbih, 33 kali hamdallah, 33 kali takbir.

i borrow the pic

Iya, Ibu, aku akan ingat pesanmu. Sebagaimana aku mengingat janjiku untuk tak lagi membuatmu menangis. Aku tahu, ibu sedang memendam sedih sendiri.

“Hari ini ibu masak nasi jagung. Ibu ingat jaman kecil dulu. Hhhh, ternyata begini ya rasanya tua. Pantas saja ibu lelah, sudah dari kecil ibu bekerja keras. Tolong terima usaha ibu buat kalian. Ibu sudah usahakan yang terbaik yang ibu bisa. Sakit rasanya mendengar kakakmu mengungkit kekurangannya.”

“Dulu, ayahmu ingin sekali punya anak kedua perempuan. Usaha pertama, keguguran. Yang kedua juga. Lalu, lahir kamu. Ayahmu senang sekali. Tapi kemudian ayah meninggalkan ibu sebelum sempat menikahkanmu. Ibu sedih kalau ingat kamu yatim sekarang.”

Aku juga sedih, ibu, dengan kepergian ayah. Tapi, tidak mengapa. Sungguh. Masih ada ibu, itu cukup buatku sekarang. Allah tidak akan menyia-nyiakan kita. Kita akan baik-baik saja. Dan Ayah, pasti sedang mengintip surga dari kuburnya sekarang. Meminta segera dikumpulkan dengan kita di dalamnya.