Memperbanyak Sujud

Dikisahkan oleh Rabiah bin Ka’ab al-Aslami, bahwa pada suatu malam ia pernah menyediakan seember air wudhu dan keperluan-keperluan lain yang dibutuhkan Rasulullah SAW. Melihat kebaikan yang dilakukan oleh Rabiah, Rasulullah berkata kepadanya, “Mintalah sesuatu dariku, wahai Rabiah.”

Rabiah pun menyebutkan permintaannya. “Wahai Rasulullah, aku minta agar Allah menjadikanku sebagai pendampingmu di surga kelak.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah tak ada permintaan selain itu?”

“Tidak ada, wahai Baginda Nabi. Hanya itu yang ingin aku minta darimu,” jawab Rabiah. “Jika demikian, maka bantulah dirimu untuk memperbanyak sujud.” (HR Muslim)
__________

Dalam hadits ini dipakai penyebutan sebagian dengan maksud keseluruhan. Jadi, yang dimaksud dengan sujud disini adalah sholat. Maka untuk mengamalkan hadits ini, yang seharusnya kita lakukan agar bisa mendampingi Rasulullah di surga adalah memperbanyak sholat sunah bukan memperbanyak sujud-sujud (selain sujud syukur dan tilawah) di luar sholat.

Hadits ini menceritakan pada kita betapa indahnya akhlak Rasulullah. Rasulullah tidak pernah membiarkan orang yang berbuat baik kepadanya begitu saja kecuali dengan membalas kebaikannya. Jangankan pada yang berbuat baik, pada yang berbuat jahat pun Rasulullah membalas dengan kebaikan. Itulah ihsan. Ihsan itu bukan berbuat baik pada orang yang berbuat baik kepadamu tapi berbuat baik pada orang yang berbuat jahat kepadamu. Hikmah dari akhlak ini adalah membrikan tasyjid (stimulan) pada orang yang berbuat baik itu untuk mempertahankan karakter baiknya atau pada orang yang berbuat jahat untuk memperbaiki akhlaknya. Begitulah ta’awun dalam kebaikan dan ketaqwaan. Bukan hanya bersama-sama berbuat baik tapi saling berbuat baik. Semoga kita bisa meneladani akhlak Rasulullah ini, karena dalam setiap sunah yang kita ikuti pasti ada kebaikan, barakah, cinta Allah dan ampunan-Nya atas dosa-dosa kita.

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (Ali Imran: 31)

Hikmah lain hadits ini adalah kemuliaan cita-cita hidup Rabiah. Rabiah tidak meminta harta atau hal lain dari dunia ini tapi yang dimintanya adalah urusan akhirat. Rabiah tahu benar jika ia melewatkan alam barzah dan akhirat dalam siksa maka betapa ruginya. Sedang dunia in sementara, tak lebih dari permainan dan senda gurau belaka. Maka cita-cita tertingginya jelas, menemani Rasulullah di surga.

Dan jawab Rasulullah, “Jika demikian, maka bantulah dirimu untuk memperbanyak sujud” mengajarkan kita bahwa saat kita beramal sholih pada hakikatnya kita berbuat baik untuk diri kita sendiri. Dengang amal sholih dan kebaikan tersebut akan lahir kemaslahatan yang besar untuk dirinya sendiri di dunia maupun di akhirat. Begitu pula ketika seseorang berbuat maksiat dan bid’ah. Pada hakikatnya, ia mengantar dirinya sendiri pada kebinasaan.

Hikmah lain yang ikhtilafi adalah tentang kedudukan sujud. Sebagian ulaman berpendapat bahwa rukun sholat yang paling utama adalah sujud karena di dalamnya kita merendahkan diri di hadapan Allah. Sebagian berpendapat yang utama adalah berdiri karena gerakan tersebut paling lama dilakukan dan di dalamnya dibaca ayat Al Qur’an. Jadi, ditinjau dari bacaan yang utama adalah berdiri dan ditinjau dari gerakan yang utama adalah sujud.

i borrow the pic

NB : Dalam sujud, kita boleh membaca do’a dari Al Qur’an dengan syarat bacaan tersebut diniatkan untuk do’a bukan membaca ayat Al Qur’an. Sujud adalah saat seorang hamba merendahkan dirinya dan ayat Al Qur’an yang agung tidak boleh dibawa-bawa. Syarat kedua adalah yang dibaca adalah bagian dari ayat Al Qur’an yang berupa do’a bukan keseluruhan ayat Al Qur’an.

Oleh-oleh dari kajian di masjid Cipaganti.