Berita dan Sikap Kita

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (An Nur 15)

Di musim pemilu ini, kita seringkali mendapati kabar yang mengusik rasa keadilan atau kemanusiaan kita, pun nilai-nilai benar-salah atau baik-buruk yang kita yakini. Lalu dengan semangat membara -yang sebenarnya lebih banyak didorong emosi, kita menyebarluaskan kabar tersebut. Tak lupa berapi-api mengomentari seolah-olah paham dan benar. Sampai kita lupa langkah terpenting sebelum itu semua: tabayyun. Kita lupa mengecek kebenaran berita tersebut, memahami duduk permasalahan seutuhnya, dan melihat dari sudut pandang para pihak yang terlibat. Dan akhirnya, alih-alih memberikan hukuman sosial atau mencerdaskan yang lain, kita justru memperkeruh suasana.

Kalaupun akhirnya proses tabayyun kita membenarkan kabar tersebut,tidak lantas kita harus ikut menyebarluaskan, ramai membahas dengan bahasa yang jauh dari standar santun kebanyakan orang. Ada maslahat dan madharat yang harus kita pertimbangkan. Ada kehatian memilih kata agar pesan kita diterima. Memang semua proses itu tidak menyenangkan, sebagian menyakitkan bahkan. Tapi justru disitulah diuji kematangan dan kualitas diri kita.

Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat. (Al Furqon 20)