Matahari, Kau, dan Aku

Kau tahu benar betapa aku menyukai rembang matahari terbenam. Saat hati dan hari sendu, ia menutupnya dengan jingga yang indah dan menyusupkan sedikit penerimaan dalam keyakinan bahwa apa yang terjadi adalah terbaik. Penerimaan yang perlahan menjelmakan sendu menjadi bahagia.

Tapi setiap kali aku menginginkannya, kau justru mengajakku melihat matahari terbit. Menikmati hangat sinarnya sambil menyesap secangkir kopi hitam. “Matahari pagi juga membawakanmu jingga bukan? Tapi jingganya mengantar semangat. Terlalu dini untukmu menyerah. Kau masih harus memperjuangkannya. Nanti, saatnya kau harus menerima takdir, akan kubawa kau pada rembang matahari terbenam,” bisikmu saat merengkuhku di atap pagi itu.

Secangkir kopi dan matahari terbit menjadi rutinitasku tiap pagi. Tentu saja selalu ada kau yang menemaniku di atap. Dan aku pun terbiasa mengawali hari dengan selaksa semangat. Aku menjadi terlalu akrab dengan senyum. Aku senang berteman dengan tantangan. Lalu saat hari dan hati letih, kau akan mengajakku melihat bintang. Mengingatkanku pada mimpi dan janji yang dititip masa lalu. 

Saat akhirnya hari dan hatiku terlalu letih. Kau lah, satu-satunya yang kuijinkan melihat air mata paling rahasia di bawah hujan. Alih-alih memberikan bahumu, kau malah mengajakku menari. Dasar kau memang tidak peka! Tapi entah bagaimana, aku jadi tertawa dan lupa pada air mata. Kita bermain hujan bersama. Aku tidur dengan hati riang malam itu. 

Esoknya, kau penuhi janjimu mengantarku melihat rembang matahari terbenam. “Kau sudah siap menerima,” bisikmu. Kau tahu, rembang diantara gedung-gedung senja itu terasa sangat indah? Penerimaan yang indah. “Aku akan menemanimu membuat peta baru,” katamu pada lega senyumku. Aku terpaku menatapmu. Takjub pada ketulusan dalam matamu yang menatap matahari. “Meski arahnya akan menuntunku menjauh darimu?” tanyaku. “Meskipun begitu,” jawabmu lembut membelai kepalaku.

Ah, aku tak menyangka kita akan sampai di titik ini. Pertemuan pertama kita penuh antisipasi. Kau tentu tahu banyak yang mengantar kabar buruk tentangmu padaku. Tapi aku yang datang dengan hati remuk, jatuh cinta padamu. Pandangan pertama. Dan kau, dengan caramu sendiri, telah memberiku hati baru. Dua tahun ini, aku menemukan kembali hidupku bersama kebaikan, keramahan, tantangan, kejutan, dan pelajaran yang kau berikan. Hubungan kita memang tidak selalu baik-baik saja. Aku yang emosional ini seringkali tak mengerti maksud baikmu. Tapi setiap pelarianku selalu berujung kembali padamu. Dan kau selalu menerimaku kembali.

Tiba-tiba aku takut, banyak “bagaimana jika” berseliweran di kepalaku. Aku takut dengan kemungkinan. “Kau tahu dimana harus mencariku,” katamu membaca pikiranku. “Tak ada yang perlu kau risaukan. Mulailah perjalanan barumu. Aku akan selalu ada disini saat kau membutuhkanku.”

Oh, kau, betapa aku mencintaimu; Jakarta! Kotaku!

Happy 487th birthday!