Sudah Lama

Allah.,

Betapa jauh perjalananku merentang jarak antara kita. Padahal, aku mengawalinya untuk memendekkan jarak antara kita. Betapa lama aku tak bicara, bercerita, meminta, atau sekedar bermanja.

Jadi….

Kemana aku harus mengubah arah?

Darimana aku harus memulai?

 

Matahari, Kau, dan Aku

Kau tahu benar betapa aku menyukai rembang matahari terbenam. Saat hati dan hari sendu, ia menutupnya dengan jingga yang indah dan menyusupkan sedikit penerimaan dalam keyakinan bahwa apa yang terjadi adalah terbaik. Penerimaan yang perlahan menjelmakan sendu menjadi bahagia.

Tapi setiap kali aku menginginkannya, kau justru mengajakku melihat matahari terbit. Menikmati hangat sinarnya sambil menyesap secangkir kopi hitam. “Matahari pagi juga membawakanmu jingga bukan? Tapi jingganya mengantar semangat. Terlalu dini untukmu menyerah. Kau masih harus memperjuangkannya. Nanti, saatnya kau harus menerima takdir, akan kubawa kau pada rembang matahari terbenam,” bisikmu saat merengkuhku di atap pagi itu.

Secangkir kopi dan matahari terbit menjadi rutinitasku tiap pagi. Tentu saja selalu ada kau yang menemaniku di atap. Dan aku pun terbiasa mengawali hari dengan selaksa semangat. Aku menjadi terlalu akrab dengan senyum. Aku senang berteman dengan tantangan. Lalu saat hari dan hati letih, kau akan mengajakku melihat bintang. Mengingatkanku pada mimpi dan janji yang dititip masa lalu. 

Saat akhirnya hari dan hatiku terlalu letih. Kau lah, satu-satunya yang kuijinkan melihat air mata paling rahasia di bawah hujan. Alih-alih memberikan bahumu, kau malah mengajakku menari. Dasar kau memang tidak peka! Tapi entah bagaimana, aku jadi tertawa dan lupa pada air mata. Kita bermain hujan bersama. Aku tidur dengan hati riang malam itu. 

Esoknya, kau penuhi janjimu mengantarku melihat rembang matahari terbenam. “Kau sudah siap menerima,” bisikmu. Kau tahu, rembang diantara gedung-gedung senja itu terasa sangat indah? Penerimaan yang indah. “Aku akan menemanimu membuat peta baru,” katamu pada lega senyumku. Aku terpaku menatapmu. Takjub pada ketulusan dalam matamu yang menatap matahari. “Meski arahnya akan menuntunku menjauh darimu?” tanyaku. “Meskipun begitu,” jawabmu lembut membelai kepalaku.

Ah, aku tak menyangka kita akan sampai di titik ini. Pertemuan pertama kita penuh antisipasi. Kau tentu tahu banyak yang mengantar kabar buruk tentangmu padaku. Tapi aku yang datang dengan hati remuk, jatuh cinta padamu. Pandangan pertama. Dan kau, dengan caramu sendiri, telah memberiku hati baru. Dua tahun ini, aku menemukan kembali hidupku bersama kebaikan, keramahan, tantangan, kejutan, dan pelajaran yang kau berikan. Hubungan kita memang tidak selalu baik-baik saja. Aku yang emosional ini seringkali tak mengerti maksud baikmu. Tapi setiap pelarianku selalu berujung kembali padamu. Dan kau selalu menerimaku kembali.

Tiba-tiba aku takut, banyak “bagaimana jika” berseliweran di kepalaku. Aku takut dengan kemungkinan. “Kau tahu dimana harus mencariku,” katamu membaca pikiranku. “Tak ada yang perlu kau risaukan. Mulailah perjalanan barumu. Aku akan selalu ada disini saat kau membutuhkanku.”

Oh, kau, betapa aku mencintaimu; Jakarta! Kotaku!

Happy 487th birthday!

Tentang Kegagalan

Dear Heart.,

You have learned that your greatest failure normally will be followed by the greatest triumph. Jadikan aku hamba yang membanggakan Allah, yang  bila memperoleh kebaikan kamu memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah kemu memuji Allah dan bersabar. Ingatkan aku selalu akan janji Allah saat aku berada di titik nadir..

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah  datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. -Q.S. Al Baqarah : 214

Dan mintalah pertolongan ( kepada ) Allah dengan sabar dan sholat.
Dan sesungguhya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang  khusu’ , ( yaitu ) orang-orang yang menyakini , bahwa mereka akan menemui Robb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. -QS Al Baqarah : 45 -46

Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang indah -Al Ma’arij : 5
Dalam menafsirkan ayat ini, Sayyid Quthb mengatakan, “Sabar yang indah adalah kesabaran yang tenang tenteram, kesabaran yang tidak disertai perasaan-perasaan marah dan gelisah dan tidak pula disertai rasa ragu-ragu terhadap kebenaran janji Allah. Kesabaran orang yang yakin terhadap akibat-akibat, kesabaran orang yang rido dengan takdir Allah, kesabaran orang yang menyadari hikmah dibalik ujian Allah dan kesabaran orang yang senantiasa berhubung dengan Allah dan mencari pahala di sisiNya dan dari apa saja kesusahan yang menimpa dirinya.”

Barang siapa yang bersungguh-sungguh di jalan (agama)Kami, sungguh benar-benar akan kami tunjukkan jalan-jalan Kami, dan Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. -QS. Al Ankabut : 69

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,… -Al Isra : 7

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” -Al Baqarah : 286

Jadi jangan khawatir jika saat ini kamu mengalami kesusahan, karena pastinya setelah itu akan datang kemudahan dan juga kesuksesan yang jauh lebih besar..

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu? Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. -QS. Alam Nasyrah/94:1-8)

Please, let it go.. Jangan biarkan aku membusuk karena kamu terus memelihara lukamu..

Dream another dream..

My Hero Taxi Driver

I am so grateful to meet Pak Yaya, my taxi driver this morning. He told his life story along the way to my office and the wisdom of the story is completely applicable to my situation; If you fell down yesterday, stand up today. He got fired at his late forty as Marketing Manager. He should struggle from zero because no companies would hire him because of his age. He opened a small shop at his house to feed his family and being a taxi driver later. But, successfully ushered his children to graduate school.

“Terus berjuang, Neng. Prinsipnya DUIT, Doa Usaha Ishbir Tawakal.”

There’s no way it’s a coincidence. It must be your doing, My Rabb. I am sorry I almost forgot, that..

You love me the most.

You are every step I made.

You are every minute of my everyday.

You are my daily sunshine.

You are my everything.

Welcome, 2013!

Image

My Rabb, I hope, somewhere in this year, You surprise me.
I don’t know where I am going from here,  but I promise it won’t be boring. Whatever fortune brings, I won’t be afraid of doing things. Let  me be brave – step into the unknown without fear and with smiles on my face, even if I am faking it. And whatever happens to me, whatever I make, whatever I learn, let me take joy in it, let me be grateful with it.
Cheers to a new year and another chance to get it right!
May my coming 2013 be filled with magic experiences and dreams come true and good madness.

My Hero Bemo Drive

 

Ia berjalan ringan menuju kursi pengemudi. Diletakkannya kruk dengan hati-hati disebelah kanan tempat duduknya. Ia ambil logam untuk disambungkan dengan kaki kirinya. Kemudian dijalankannya bemo dengan hati-hati. Ia selalu mengambil jalur di tepi sebelah kiri dengan kecepatan sedang. Tak ia balas klakson tak sabar dari supir Innova yang terpaksa terhenti saat ia menurunkan penumpangnya. Sama sekali tak ada umpatan atau wajah kesal. Hanya pemakluman. Ia ucapkan “Terimaksih, kak..” dengan ramah saat ia menerima ongkos dari penumpangnya.

I met that bemo driver in one morning after spending my night at the office finishing my work. I remember that morning suddenly I wanted to take Kopaja instead of a cab. I need a new point of view. And My Rabb gives me exactly what I need. He made me met him.

Since then, whenever I feel lost in this “Big Durian”, I take Kopaja 66 to Manggarai just to meet that bemo driver. He doesn’t need to tell me anything. Seeing him already teaches me everything about sincerity, dignity, careful and persistent of work or effort, and gratitude.

Up till now, I still don’t know his name. I’ve never succeed in summing up my courage to talk to him. With all that my Rabb has given to me compared to him, I should live my life in a more decent way and pay more gratitude. But I find myself complaining over unsignificant matters. It’s hard for me to hold my tears of shame whenever I see him.

Bandung, Finally!

Yes, finally I visited Bandung last weekend. After longing for weeks due to works and unhealthy body, I can breathe it’s cold air. It’s amazing! I was planning on spiritual and culinary travel. Here is some photos of good food and beverage I had there.

Iga Bakar Si Jangkung. Yumm! This is my brother’s favourite. We used to eat this together in our spare time. I hardly enjoyed it, because I missed him in every bite 😦

Portabella Mushrom and Caramel Machiato at Tree House. I am in love with mushroom since enjoying Little Asia fried crispy mushroom menu. This time, the mushroom is baked. And the taste made me falling in love more with mushroom. And the caramel machiato is good too. I can taste the espresso, caramel and milk in it.

Then, white coffee. What made my day wasn’t the taste although it tasted good too, but the way they served it. How cute the plastic white lace is! The taste is light. The tart sweetness lingers when it’s in my mouth but fade in the finish, replaced by gentle bitterness. I enjoyed it with “steak lidah sapi”. The meat felt soft. Unluckily, the brown sauce is too sweet for me. But, it still taste good. Right after finishing my meal, my stress is completely disappear 🙂

And this friday, I got a meeting invitation in Bandung. Wow! I can’t believe my luck! The venue is Hotel Sensa in Ciwalk. It is the most beautiful hotel I ever visited. I like it at the first sight and fall in love at the first step in it. I’ve never seen any hotel that it’s detail is beautifully designed as this hotel. It feels warm, nearly like home. Even the toilet! I can sit in the lobby bar, doing nothing, thinking nothing, enjoying coffee and the view. Sadly, that moment only lasted for ten minutes before the meeting. But, the meeting room felt warm too. I never felt that relaxed in meeting room  before. Here is some shot I took.

And… I write this post while enjoying Ngopi Doeloe Balck Forest Coffee and Nachos. The beverage tasted complicated. Mixed espresso, almond and mocca felt strong in my mouth. I thought of tasting rum too (the waiter said it’s a non alcoholic rum). The nachos is beyond. It is served with four kind of sauce, black paper, mushroom, tomato, and chili. They taste good, but the black paper is the best black paper sauce I’ve ever had. I can’t get enough of it!

Ah, we went to lunch together after the meeting. We enjoyed “ayam goreng” at Sambel Hejo. It’s delicious. And it’s the first time I taste “lenca”. It tasted funny and surprising in my mouth. I like it but it didn’t make my favorite list. But, I found I like “cimplung”. It’s like “perkedel kentang” but chewy. I guess it made of “pati” too beside potato.

The most favorite part of this trip is Abu Haidar’s preaching :

Kehidupan dunia itu seperti air hujan yang menyirami bumi kemudian menumbuhkan beragam tanaman yang mengagumkan penanamnya. Tapi, tanaman itu kemudian layu, daunnya menguning lalu mati. Sesungguhnya, dunia itu hanyalah kesenangan yang menipu. Sedangkan di kehidupan akhirat itu hanya ada adzab yang pedih atau ampunan dan ridho Allah. Mana yang kita pilih?

Yes, He is definitely right. All of the fun I told above is just “kesenangan yang menipu”.. I shoudn’t be tricked by it in my journey home to “kampung akhirat”.

My Rabb, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan dan berlindung kepada-Mu dari segala keburukan. Dekatkanlah segala sesuatu yang mendekatkanku kepada-Mu dan jauhkanlah segala sesuatu yang menjauhkanku dari-Mu. Amin.

From, all of the coincidence in my trip, meeting my sisters, my Arabic teacher, and so on, I know You love me, My Rabb. That’s why this day should be ended with gratitude. Alhamdulillah. And, I will learn and try harder to love You better than this. Bismillah..